Ajik Ajik
Web Blog Undip Web Blog Undip

Calendar

April 2010
M T W T F S S
« Mar   May »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Main

Categories:

Archives:


Links

Meta:


Lunasi Pajaknya, Awasi Penggunannya……Bener gak yo?

April 22, 2010
Filed under: Articel — ajiksujoko @ 11:49 am

Ketika kasus Gayus mencuat di berbagai media baik televisi maupun surat kabar, saya malah teringat ada iklan layanan masyarakat. Kalo tidak salah, iklan tersebut pernah dipasang di daerah Simpang Lima Semarang, cuman di mana tempatnya agak-2 lupa. Tulisannya sih sederhana :”Lunasi Pajaknya Awasi Penggunannya”.Karena saya orang awam, jadi tulisan tersebut saya anggap sebagai iklan layanan masyarakat. Benarnya, ah tak tau lah…

Kalau dari segi redaksi tulisan iklan tersebut sangat sederhana dan “ketoke penak” membacanya. Namun benarkah iklan tersebut mudah diaplikasikan maksudnya, yang menjadi target iklan tersebut dapat memenuhi kewajibannya membayar pajak.

Siapakah yang harus membayar pajak ?. Secara normatif kewajiban membayar pajak (si wajib pajak) adalah orang perorangan dan Badan Usaha. Sampai-sampai departemen yang membidangi bidang pajak pun terus mengadakan sosialisasi pajak. Dan tentunya yang paling keliatan adanya kewajiban memiliki NPWP bagi wajib pajak. Yah, itu kan peraturannya. Kalau badan usaha mungkin sudah terbiasa dan malah kewajiban bagi mereka memiliki NPWP. Kalau orang perorangan, apakah akan dipukul rata “gebyar uyah” bagi seluruh warga negara? Kalau orangnya katakanlah cukup “melek hukum” mungkin akan so OK. Tapi kalau katakanlah orang yang notaben nya tiap hari bangun pagi, trus pergi ke sawah/pasar, atau orang yang tidak memiliki pekerjaan, apa IYA akan diwajibkan mereka membayar pajak & memiliki NPWP ?. Mungkin bisa tengok orang-orang yang sudah pensiunan “sampun sepuh-sepuh” (mungkin pensiunan dari Dep. Pajak kali ye..), orang dusun yang tiap harinya masih dirasa susah mengais rejeki, bahkan orang di kota pun yang notabennya “mati enggan, hidup susah”. Ah, itu kan hanya sebagian kecil orang yang memiliki kondisi seperti itu. Tapi sekarang, yang namanya sebagian kecil tersebut sudah banyak, sehingga golongan orang yang memiliki kondisi “katakanlah cukup mengenaskan” tersebut semakin banyak.

Mencuatnya kasus Gayus, mungkin refleksi juga bagi si pembuat iklan tersebut. Meskipun normatifnya, belum terungkap semua kasus tersebut, namun dengan siapa Gayus ini bekerja sama, di media sudah begitu heboh mengungkapkan “Siapa-siapa mereka?”. Begitu banyak pajak-pajak yang mungkin tidak diberikan (bukan dilaporkan) kepada negara. AH, dilaporkan aja tidak apa lagi diberikan. Lantas, kalau tidak diberikan/tidak dilaporkan, mungkin pertanyaan bagi orang awam seperti saya: “Apa gak bayar atau salah alamat ngasih pajaknya?”. Andaikata tidak dibayarkan pajaknya, secara normatif kewajiban membayar pajak tersebut katakanlah belum lunas. Atau andaikata sudah dibayarkan, tapi koq tidak dicatat oleh “beliau-beliau” yang bertugas mengurusi pajak. Serba banyak kemungkinan…..pusiiiing.

Hampir disetiap lini kehidupan, orang-orang awam baik miskin/kaya, memiliki banyak mobil bahkan beberapa perusahaan (CV/PT) ataupuan tidak, akan terkena pajak. Itu sudah pasti ! Apa sih yang gak kena pajak ? ……..

Wajib pajak baik orang kaya dan miskin tentunya beda kemampuannya, terutama materiel. Orang punya banyak perusahaan tentu banyak uang (apa utang) dari yang tidak memiliki perusahaan. Andaikata wajib pajak tersebut sudah melunasi pajaknya, bagaimana mereka mengawasi pajak mereka yang telah dibayarkan ?

Dari pembahasan di atas, bagaimana iklan layanan masyarakat tersebut dapat merespon kewajiban dan hak wajib pajak ? Apa mekanisme bagi wajib pajak mengawasi pajak yang sudah dibayarkan? Apa kalau sudah tau ada kasus Gayus, baru diawasi? Tentunya banyak pertanyaan yang sifatnya bisa mengapa, apa, apakah dan seterusnya yang bisa dilontarkan pada iklan layanan masyarakat tersebut.

Tulisan ini tidak memojokkan bagi “beliau-2” yang berkompeten menangani pembayaran pajak dari wajib pajak. Namun, hanya sekedar harapan dari orang awam mengenai pajak, “mbok ya”, pajak yang sudah dibayar wajib pajak dipakai untuk yang semestinya (masud semestinya : mengapa harus membayar pajak?) .

Akhirnya akan muncul pertanyaan: “Apakah kita akan mau membayar pajak? La sudah tau pajaknya dibuat “bancakan”.

Share on Facebook

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. | TrackBack URI

Leave a comment

XHTML ( You can use these tags): <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> .

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.

*


Sunflowers Theme by Pello Xabier Altadill Izura