Ajik Ajik
Web Blog Undip Web Blog Undip

Calendar

May 2010
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Main

Categories:

Archives:


Links

Meta:


Demokrasi ala “ndeso”

May 14, 2010
Filed under: Articel — ajiksujoko @ 2:30 pm

Begitu populer kata “demokrasi” bagi orang yang berpraktisi dalam bidang politik. Sampai di desa bahkan pelosok (“nggunung”/ndeso) pun ikut-ikutan sering mendengar kata demokrasi. Lewat media elektronik, tayangan acara di televisi. Ya, dari situlah orang desa banyak mendengar isitilah/ kata demokrasi. Kalaupun ada elite politik tingkat lokal membicarakan mengenai demokrasi tidak secara eksplisit menerangkan atau menjelaskan istilah demokrasi. Bisa saja mereka sendiri tidak mengetahui arti/definisi demokrasi itu sendiri. Bagaimana demokrasi di desa?

Kalau dilihat definisi secara umum, Demokrasi adalah sebuah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat (sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Demokrasi). Oleh karena itu tidak heran jikalau menggunakan istilah demokrasi lebih condong dalam tema-tema yang berbau pemerintahan, politik maupun hukum. Namun kalau dilihat hal yang terjadi seperti demo menuntut hak-hak sosial, hak tenaga kerja, dll, alasannya mereka menuntut keadilan dan kita negara demokrasi…??? Dari asumsi tersebut, jelas bahwa demokrasi tidak hanya berkutat masalah politik, pemerintahan belaka, seperti kampanye partai, pemilu dan hal lainnya yang berbau politik. Demokrasi juga menyinggung tuntutan keadilan, hak dll.

Demokrasi berlaku bagi rakyat, tak terkecuali rakyat yang hidupnya di desa (Jawa = “ndeso”). Bagi orang desa itu sederhana dalam menjelaskan dan memaknai suatu masalah. Tidak perlu “njlimet” apalagi istilahnya “ndakik”. Karena kehidupan orang desa itu terbilang sederhana, jauh dari peristiwa demonstrasi. Memaknai demokrasi pun  sederhana, bahkan asal atau tidak tahu sama sekali atau tidak tahu. Meskipun asal, namun kehidupan di desa cukup demokrasi. Mengapa demikian ?

Wilayah desa itu secara sosial, warganya begitu akrab satu sama lain. Rasa saling bantu membantu antar keluarga atau antar warga pun masih kuat. Rasa kekeluargaan dan kegotongroyongan masih terasa kental. Sehingga kalau diistilah ilmiahkan berbentuk kondisi sosial orang desa bebentuk paguyuban. Kehidupan di desa itu penuh dengan simbol-simbol untuk menjelaskan suatu makna. Misalkan, untuk menjelaskan larangan tidak boleh menebang pohon beringin tua dekat sendang tertentu. Mereka hanya bilang : “ojo ngetok wit ringin cedak belik kono, soale wingit, ben ora kualat”. Jangan menebang pohon beringin dekat sendang sana, karena angker, supaya tidak kena getahnya. Alasannya karena ada penunggunya (entah itu dikenal dengan sebutan jin, setan, gendruwo, wewe ataupun dan seterusnya). Maksud orang-orang tua yang bijak itu sebenarnya, alasan tidak menebang pohon besar itu karena untuk resapan air. Dapat dijelaskan secara ilmiah kalau banyak resapan air yang berkurang/hilang, maka manusia akan mendapat imbasnya sendiri (Jawa = “kualat”) akan kekurangan air, kekeringan, banjir, dll.

Dalam pemilihan Kepala RT/RW, Kepala Dusun bahkan Kepala Desa/BPD pun sudah dipilih seperti pemilu-nya Presiden/Anggota Dewan. Begitu elite politik “sekaliber ndeso” berperan aktif memainkan perananyna dalam pemilihan Kepala Dusun bahkan dalam pemilihan Kepala Desa. Ternyata, tidak hanya elite politik tingkat daerah/nasional yang ada, elite politik tingkat ndeso pun juga ada. Dalam pemilihan Kepala Desa/BPD pun terkadang diwarnai dengan trik-trik politik seperti “money politic”, kampanye, dll. Entah itu ikut-ikutan trend pemilu Presiden/Dewan atau memang sudah membudaya.

Dalam sistem pemerintahan di desa pun sederhana. Meskipun tidak menerapkan konsep trias politika. Kalau diteliti hanya ada 2 badan. Eksekutif (Kepala Desa) beserta stafnya dan Legislatif  (BPD). Untuk Badan Yudikatifnya tidak ada. Misalpun ada badan yudikatifnya di tingkat desa selain bingung mengadakannya juga belum ada “aturan mainnya”. Kalau demikian, mengapa tidak dibentuk lembaga yudikatif di tingkat desa ? Kalau ada masalah / “apa-apa” lebih cenderung datang ke Pak Kyai,  Pastur, Pak Kadus, Pak Kades dan sudah dekat dengan Kantor Polisi atau Koramil atau orang yang dianggap tua.  Mereka dianggap tempat untuk menyelesaikan sengketa, khususnya “mo limo” / 5 m. Malah masalah cepat selesai, cepat damai, tidak perlu ke pengadilan segala dll. Yang jelas lebih menerima sesama lawan sengketa. Ya, itu sebagian kecil. Kalau tidak  tahan/menerima, ya tetap maju ke pengadilan.

Lembaga yudikatif di tingkat desa jika dibentuk sangat membantu dalam menyelesaikan berbagai persoalan warganya. Kalau bisa diselesaikan secara damai, mengapa perlu berurusan dengan yang berwenang ? Ah, berurusan dengan yang “berwajib” saja juga ada damainya. Misal kasus cerai. Setiap ada kasus cerai yang diajukan di pengadilan, pasti hakim akan melakukan aksi mendamaikan kedua pasangan yang ingin bercerai.

Ya, memang harus damai. Mengapa menyelesaikan persoalan warga di desa harus berakhir damai ? Tujuannya, “podo penake” /sama-sama enaknya, tidak timbul selisih lagi. Ditinjau dari hubungan keakraban sesama warga, akan “pekewuh” / rasa tidak nyaman atau tidak enak jika berselisih dengan sesama warga apalagi satu RT/RW/Dusun/Desa. Orang jawa bilang “ngisin-isini” / memalukan kalau bersiteru/berselisih dengan sesama orang desa.

Contoh konkrit kehidupan yang cukup demokrasi (sangat “ndemokraseni”) di desa adalah “kumpulan” RT/RW/Desa.  Setiap masalah yang berkaitan dengan hubungan sesama warga/lingkungan dapat diungkapkan dalam forum ini. Contohnya adalah pemakaian air sumber (mata air), air sungai. Penggunaan mata air ataupun air sungai untuk berbagai keperluan bersama akan dimusyawarahkan. Sehingga keputusan dalam “kumpulan” tersebut dapat dipahami semua warga.

Share on Facebook

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. | TrackBack URI

Leave a comment

XHTML ( You can use these tags): <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> .

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.

*


Sunflowers Theme by Pello Xabier Altadill Izura