Ajik Ajik
Web Blog Undip Web Blog Undip

Calendar

January 2011
M T W T F S S
« Nov   Mar »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Main

Categories:

Archives:


Links

Meta:


apa ada yang kurang tepat?

January 13, 2011
Filed under: Articel — ajiksujoko @ 11:33 am

Mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan salah satu tujuan negara. Mewujudkan tujuan tersebut tidaklah mudah seperti membalik telapak tangan. Berbagai media dan metode dilakukan agar tujuan tersebut dapat tercapai, baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Berbagai pendidikan baik jalur formal, non formal, maupun informal dilakukan sebagai wujud upaya pemerintah dan masyarakat berperan aktif mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pemerintah melalui departemennya (sekarang kementerian) entah apa lagi namanya tahun depan begitu antusias  dan gigih memperjuangkan agar tujuan negara tersebut dapat tercapai. Buktinya anggaran 20 % di bidang pendidikan. Hebat bukan? Perlu dan harus didukung perjuangan pemerintah melalui kementeriannya. Bukan hanya mengkritisi belaka tanpa dukungan, mencaci, malah menghancurkan tujuan mulia tersebut.

Perguruan Tinggi baik itu PTN maupun PTS secara formal masuk dalam lingkup kementerian pendidikan.  Baik PTN dan PTS didirikan agar berperan aktif sesuai maksud tujuan yang utama; dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. PTN dan PTS pun perlu didukung agar tetap eksis dan memberikan tuntutan / harapan sebagai tempat mengolah peserta didik agar memiliki kecerdasan. Cerdas (jawa = encer ndase). cerdas tidak identik dengan pintar/pandai. Cerdas (=smart) memiliki kemampuan berpikir, bertindak dan beradaptasi dengan segala persoalan dan minimal mampu untuk memecahkan bahkan menyelesaikan persoalan dengan baik dan bijak. Harapannya ouput peserta didik memiliki kecerdasan baik itu intelektual, spirit maupun emosionalnya.

Perkembangan dan hampir terjadi di setiap output PTN maupun PTS adalah tidak sedikit lulusan PTN/PTS kesulitan menerapkan baik itu ilmu, skillnya. Baik itu wujudnya belum bekerja, pelajaran yang didapat tidak sesuai di lapangan kerja, bekerja tidak sesuai dengan ilmu yang didapatnya dll. Ini bukti bahwa lulusan belum memiliki kecerdasan menghadapi persoalan real setelah lulus. Mengahadapi kenyataan tersebut, patutnya pula bagi PTN/PTS mengoreksi “apa ada yang kurang tepat?” mereka mendidik peserta didiknya. Menjadi beban moral apabila target anggaran 20 %, tapi output yang dihasilkan belum mencerdaskan peserta didiknya. Alangkah bangganya apabila alumni PTN/PTS menjadi orang yang memberikan banyak manfaat kepada orang lain.

Bagaimana mengoreksi “apa ada yang kurang tepat?”. Suatu tujuan apabila melenceng tentunya akan menghasilkan tujuan yang melenceng pula. Meskipun bisa tercapai, tentu lama dan hanya beberapa persen yang akan tercapai. Komitmen mencapai tujuan harus dipegang. Apa pula dengan target sekian tahun, Perguruan Tinggi menjanjikan lulusannya dapat mendapatkan gelar dan ijazah. Woh, Perguruan Tinggi hanya digunakan mencari ijazah. Hal yang cukup mengerikan, namun sudah terjadi di PTN/PTS sebagai ajang business. PTN dan PTS saling berkompetisi dan bersaing menjaring mahasiswa sebanyak dan sesuai target/kursi. Harapannya tentu mendapatkan tambahan dana baik itu sumbangan maupun “dana lainnya”.

Business Oriented (orientasi bisnis), yah, itu melanda tujuan di berbagai PTN/PTS. PTN/PTS hanya sebagai tempat & alat untuk berbisnis. Tujuan bisnis tentu menghasilkan laba/keuntungan. Tentu keuntungan dinikmati “by who?”..Sebagai contoh, sebagai tempat iklan…(parahnya iklan rokok…), menawarkan produk dagangan/jasa dll. Kalau proses pengadaan barang/jasa tentunya tidak termasuk orientasi bisnis bagi PTN/PTS, kecuali dalam proses tersebut sebagai lahan/tempat mendapatkan keuntungan “rupiah” dari perusahaan. Lain lagi kalau PTN/PTS memiliki bisnis untuk mendukung tujuan pendidikan dan menjadi income tambahan. Tentu so OK. Orientasi bisnis dalam PTN/PTS pun bisa menjadi polemik tersendiri dalam mencapai tujuan pendidikan. Apakah diarahkan agar lulusan memiliki jiwa bisnis, namun mereka harus menjadi objek bisnis terlebih dahulu? Apakah hal tersebut cara yang cerdas? Apakah anggaran 20% masih belum mencukupi kebutuhan tujuan pendidikan?

Pendidikan dan business (untuk mencari keuntungan) sama-sama memiliki nilai investasi. Hal yang sangat logis, di bidang pendidikan memerlukan dana, sedangkan hasil bisnis adalah dana. Bisnis tidak ada keuntungan (rupiah) adalah omong kosong (business without profits is nonsense).

Apabila sudah memiliki tujuan dan terget, maka apapun hal dikerjaan untuk mendapatkan tujuan tersebut. Apabila sudah memiliki komitmen mewujudukan tujuan pendidikan maka, bisnis pun dilakukan untuk mendukung tujuan tersebut.

Apa ada yang kurang tepat?

Share on Facebook

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. | TrackBack URI

Leave a comment

XHTML ( You can use these tags): <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> .

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.

*


Sunflowers Theme by Pello Xabier Altadill Izura