Ajik Ajik
Web Blog Undip Web Blog Undip

Calendar

August 2012
M T W T F S S
« Jun   Dec »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Main

Categories:

Archives:


Links

Meta:


Budi Pekerti apa “Budi kal”

August 23, 2012
Filed under: Cerita Bebas — ajiksujoko @ 1:22 pm

Ini ada sekedar cerita waktu mudik lebaran….Cerita ini tidak mengisahkan kisah-kisah berlebaran yang begitu religi atau yang berhubungan dengan nuansa saling bermaaf-maafan. Cerita ini diambil dari perjalanan pulang (mudik) dari Kota ke Desa naik bus….Begitu tidak menarik, namun cukup membuat prihatin orang tua jaman sekarang.

Kebetulan dari Kota tempat mencari nafkah sampai dengan Desa kelahiran membutuhkan perjalanan yang tidak bisa ditempuh satu kali kendaraan umum. Minimal 2 kali. Ketika naik bus angkutan kota duduk disebelah seorang anak muda seumuran sudah kuliah. Begitu banyak barang bawaan anak muda ini. Mulai tas rangsel, tas travel sampai plastik besar isi oleh-oleh. Mungkin hampir sampai tujuan, anak muda ini telpon lewat HP nya. Suara dan logat bicaranya ….sungguh khas…suara orang Jawa. Jadi anak muda ini bicara pakai bahasa Jawa.

“Pak aku sedelok maneh meh tekan Banyumanik, tulong dijemput yo….” / …”O..yo…Bapak pethuk nganggo sepeda motor, sing ati-ati yo…”. (Bapak, saya sebentar lagi sampai di Banyumanik, tolong dijemput ya…” / …..” O, ya…Bapak jemput pakai sepeda motor, hati-hati ya…”). Begitu kurang lebih percakapan lewat HP anak muda ini. Ternyata anak muda ini sedang menelpon sang ayahnya untuk minta tolong dijemput. Mungkin begitu akrab bagi anak muda ini dengan sang ayah, sehingga bahasa yang ia gunakan pun akrab seperti teman sendiri.

Mungkin agak beda kalau bahasa yang digunakan bicara dengan ayahnya dengan bahasa Indonesia. Begitu beda. Sudah barang tentu, bahasa Indonesia tidak mengenal pemakaian kepada lawan bicara. Lain dengan bahasa Jawa yang sangat khas mengenal tingkatan pemakaian bahasanya kepada lawan bicara. Istilah yang sering terdengar bahasa / “boso” jowo alus, kromo, kasar dan lain sebagainya. Bicara dengan teman tentunya beda dengan orang tua. Dan “boso” nya pun berbeda pula.

Memang historisnya, pemakain boso jowo alus yang digunakan untuk bicara kepada orang tua berkembang di lingkungan Kraton (trah Kerajaan Mataram Islam). Tujuannya tidak lain agar para pembantu raja sampai abdi memiliki tata kerama berbicara, baik kepada sang raja maupun kepada keluarga raja khususnya di lingkungan istana. Lain itu agar kewibawaan raja tetap terjaga atau kata lain menjaga hegemoni sang raja ketika berkuasa. Setelah banyak pangeran/anak-anak raja dan keluarga raja banyak yang meninggalkan kraton karena kondisi politik dan keamanan, barulah bahasa / boso jowo alus ini menyebar ke lingkungan rakyat. Riwayat lain boso jowo ini pun sebenarnya sudah biasa dipakai dikomunitas / lingkungan pondok-pondok pesantren dulu.

Kembali ke cerita mudik lebaran ini. Setelah ganti kendaraan angkutan kota, kemudian pindah angkutan umum antar kota antar desa. Kebetulan duduk dibelakang disamping dua orang tua bapak-bapak “Estewe”. Hanya mendengar kedua orang tua ini ngobrol “ngalor-ngidul”. Ya maklum kalo ada orang-orang  tua bertemu yang sebelumnya tidak saling mengenal begitu asyik saling bercerita. Mereka saling menceritakan anak-anaknya, cucu-cucunya, keluarga dan sekolahnya dulu. Ketika salah seorang bapak tersebut menceritakan masa sekolah dulunya. Beliau berujar: “bocah enom jaman saiki iku dikandani angel, kelakuane wis podo bedikal…” Dhisik jamane aku sekolah nang SR iku diwarahi pelajaran budi pekerti, tapi sekolah saiki ora diajarke. Mulo ora maido…” (anak muda jaman sekarang itu diberi “omongan baik” itu sulit, kelakuannya sudah “tidak berbudi…” Dulu jaman saya sekolah di SR itu diajari pelajaran budi pekerti, tapi sekolah sekarang tidak diajari. Makanya maklum…”).

Dari cerita diatas mudah-mudahan dapat diambil hikmahnya. Tentunya komentar bervariasi menurut pribadi masing-masing. Namun, tentu  sebagai orang-orang tua, harapannya memiliki anak muda menjadi penerus “orang-orang tua” memiliki budi pekerti yang luhur. Kalau meleset malah menjadi “budi kal” / “mbedikal”  alias “mbedik”. Bisa dibayangkan kalau generasi penerus bangsa memiliki budi pekerti yang luhur tentunya bangsa ini akan luhur juga. Lain halnya generasinya sudah “budi kal”, mau jadi apa bangsa ini…?

 

 

 

 

Share on Facebook

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. | TrackBack URI

Leave a comment

XHTML ( You can use these tags): <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> .

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.

*


Sunflowers Theme by Pello Xabier Altadill Izura