Ajik Ajik
Web Blog Undip Web Blog Undip

Calendar

February 2013
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728  

Main

Categories:

Archives:


Links

Meta:


Pemilu,…..pemilu …kalah/menang ?

February 6, 2013
Filed under: Articel — ajiksujoko @ 1:20 pm

Pemilu (pemilihan umum), merupakan salah satu bentuk konsekuensi tidak adanya kesepakatan bermusyawarah, namun ia muncul karena kesepakatan musyawarah. Bentuk musyawarah baik dalam kekeluargaan, lembaga maupun bernegara. Salah satu bentuk negara adalah kerajaan. Era kerajaan belum dikenal pemilihan umum untuk memilih raja/ratu. Dari rakyat atau keluarga raja yang memilih dan menentukan sebagai seorang raja. Meskipun sebagian tidak puas dengan hasil pilihannya, mereka tetap taat dan patuh terhadap sang raja. Namun, lambat laun, sudah menjadi kodrat manusia yang memiliki nafsu ingin menguasai sesamanya, kepatuhan dan ketaatan terhadap raja sudah mulai dipertaruhkan. 

Dari sejarah, negara berbentuk kerajaan pun sudah diwarnai dengan pemberontakan karena hasil yang tidak memuaskan karena masalah penunjukan raja. Biasanya ahli waris sang raja, yang merasa memiliki kedudukan menggantikan tahta sang ayah, dengan jalan apapun harus menjadi raja sebagai penerus sang ayah. Bahkan, mungkin pejabat yang dekat dengan raja terdahulu atau mungkin rakyat biasa yang sangat berhasyrat menggantkan raja baik dengan perebutan kekuasaan atau cara lainnya seperti pemberontakan. Sejarah kerajaan yang hidup di Nusantara tentunya sudah menjadi bukti dan contoh nyata adanya perebutan kekuasaan.

Hasil nyata perebutan kekuasaan atau pemberontakan adalah hancurnya kerajaan itu sendiri. Bahkan menjadi kerajaan/negara kecil yang berdiri sendiri. Memang yang namanya “menyatukan untuk menjadi besar itu lebih berat ketimbang memecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil”. Sebagai contoh, Kerajaan Majapahit yang semula wilayahnya di bagian wilayah timur Pulau Jawa berkembang besar sampai Sumatra, Kalimantan dan wilayah lainnya. Upaya menyatukan wilayah yang menurut sejarahnya dikuasai Kerajaan Majapahit  adalah hal yang tidak mudah dan ringan. Namun sepeninggal raja, begitu banyak pemberontakan atas ketidakpuasan raja pengganti atau hal lainnya sehingga mendirikan kerajaan tersendiri. Ada yang hal aneh. Kerajaan yang besar sekaliber Majapahit dengan wilayah besar setelah pecah menjadi kerajaan kecil di wilayah yang kecil pula. Sebenarnya keinginan sebagain manusia itu pengin yang besar bersatu atau terpecah menjadi kecil ya..?

Sejarah lain, kekuasaan peradaban Kerajaan Islam sejak jaman Rosul diteruskan Kalifah dan penerusnya, akhirnya terpecah menjadi negara-negara yang berdiri sendiri-sendiri. Sejarah lain, mengenal seorang rakyat biasa bukan keturuanan raja yang bisa menjadi raja. Misal raja Talud jamannya Nabi Daud yang sekaligus menjadi mertua Nabi Daud. Meskpiun dalam prosesnya ada yang tidak setuju, namun setelah Talud menjadi raja, rakyat patuh dan taat terhadap raja.

Sejak dikenalkan konsep demokrasi dalam bernegara yang sudah tidak berbentuk kerajaan, hampir sebagian besar dibelahan dunia familiar dengan pemilu, termasuk Indonesia. Semula pemilu digunakan untuk memilih presiden dan wakil-wakilnya melalui proses politik, lambat laun untuk memilih kepala daerah bahkan sampai kepala desa. Tidak hanya itu bahkan memilih ketua RT/RW pun melalui pemilu.

Setiap kali menjelang pemilu, “yel-yel” menang dalam pemilu “terasa”. Bahkan melelui media pembelajaran audio visual lewat siaran televisi yang menayangkan berita seputar pemilu. Bagaimana peluang untuk menang dalam pemilu, usaha apa yang dilakukan untuk memenangkan pemilu, Sudah berapa poling yang didapat agar memenangkan pemilu dan pada akhirnya menang dalam pemilu. Tentunya ada kebalikannya dan sudah menjadi sunah alam, kalau ada yang menang tentu ada yang kalah. Apakah yang kalah ini juga merasa menang ? Ini yang terjadi dalam negara yang berdemokrasi.

Tidak jauh-jauh, seperti halnya dalam pemilihan Kepala Desa. Pernah bersinggah di wilayah desa ikut Kabupaten K. Kebetulan sedang ada pemilihan perangkat desa; Kepala Desa. Namanya pemilihan perangkat sekaliber perangkat desa tentunya ada “prestise” bagi elite sekaliber desa itu sendiri. Kalau sudah sekaliber nasional tentunya “prestis” di tingkat nasional. Dengan jalan apa pun agar ia terpilih dan memenangkan pemilihan Kepala Desa pun dilakukan. Model kampanye di rumah, di lapangan dengan berbagai hiburan, membagikan uang dan berbagai cara lainnya. Model membagikan uang dalam rangka pemilu (money politic) adalah model yang dilarang, namun praktiknya masih marak. Semakin tinggi uang yang diterima, semakin tinggi pula calon Kepala Desa berpeluang menang. Dan bahkan pemilihan Kepala Desa dijadikan ajang judi atau taruhan. Alhasil, pemenang pemilihan Kepala Desa tersebut dimenangkan oleh pemberi uang yang tingggi kepada warga pemilih. Tentunya melalui biro jasanya “si broker pemilu” Kepala Desa. Si broker pemilu ini biasanya kepercayaan calon Kepala Desa. Bisa jadi dia yang memberi dana kampanye calon Kepala Desa.

Lain halnya pemilihan Kepala Desa di daerah Kabupaten S. Money politic juga terjadi di sana. Ketika ngobrol dengan salah seorang warga ia berkata “milih Kepala Desa ki sing ono duite” artinya milih Kepala Desa itu yang ada uangnya. “Tapi yen pemilihan Gubernur opo Presiden ora eneng duite, mergane ora tau pethuk uwonge” (Tetapi apabila memilih Gubernur atau Presiden tidak ada uangnya, karena tidak pernah ketemu). Berbanding terbalik dengan kasus pemilihan kepala desa Kabupaten K di atas. Justru yang menang dalam pemilu adalah calon yang tidak membagikan uang kepada masa nya. Dan yang membagi-bagikankan uang jauh dari harapan menang. Artinya selisih perhitungan suara yang diharapkan terpaut jauh dengan calon yang menang.

Dalam pemilu pemilihan Kepala Desa yang “nuansa demokrasinya terasa” berbagai praktik untuk memenangkan pemilu pun dijalankan. Itu baru level tingkat pemerintahan di bawah. Lantas bagaimana dengan pemilu pada tingkat level yang lebih tinggi…. Tentunya “si broker pemilu” pencari dana dan masa sangat antusias dengan aktivitas yang berhubungan dengan pemilu. Harap maklum beberapa tahun sekali dan tidak setiap tahun.

Apakah wajah negara yang menerapkan demokrasi memang demikian ? Pemilu selalu ada yang menang dan kalah. Kalau yang kalah ikut merasakan hal yang sama dengan pemenang pemilu dalam arti yang positif tentunya tidak mengapa. Namun, jika yang kalah larut dalam kekalahanya, tentunya tidak sportif. Mungkin teringat calon pemilihan Kepala /Wakil Daerah Kota S yang tidak jadi. Malah bunuh diri…susah kalau begitu…

Tentunya patut disadari dan sudah menjadi bagian konstitusi di negara yang menganut demokrasi. Dalam pemilihan kepala desa, si calon dengan dana pribadinya atau mungkin berhutang kepada “si broker pemilu” menjaring masa agar memilihnya. Tapi anehnya dalam pemilihan calon wakil rakyat di level yang lebih tinggi terbuka didanai dari partai politik yang notabennya bersumber dari keuangan anggaran negara pusat/daerah yang sebenarnya untuk priorotas pendidikan politik. Namun, pendidikan politik macam apa yang diterima masyarakat ? Hanya melihat tontonan para ulah elite politik  sebagai sarana pendidikan politik ? Menerima uang para broker pemilu karena memiliki hak dalam memilih ? Belum lagi dalam pemilu pemilihan wakil rakyat atau kepala daerah membutuhan dana yang tidak sedikit. Sungguh mahal pendidikan politik.

Dalam konsep trias politika dikenal pemisahan kekuasaan antara kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif. Untuk memilih pemegang kekuasaan tertinggi anggota legislatif dan eksekutif dikenalkan adanya pemilu. Contoh, pemilihan Presiden/Wapres, Gubernur/Wakil Gubernur, Bupati/Wakil Bupati, Walikota/Wakil Walikota, Kepala Desa, Anggota DPR/DPRD, DPD. Beruntung pemilihan Camat tidak ada pemilu. Mengapa ? Dan pemilihan tersebut membutuhkan dana yang besar. Apakah pemegang kekuasaan tertinggi anggota yudikatif akan juga meniru penerapan pemilu ?

Pemilu, siapa yang menang ?….pemain pemilu atau pencetus pemilu ? siapa yang kalah ? rakyat atau negara ?

Share on Facebook

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. | TrackBack URI

Leave a comment

XHTML ( You can use these tags): <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> .

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.

*


Sunflowers Theme by Pello Xabier Altadill Izura