Ajik Ajik
Web Blog Undip Web Blog Undip

Calendar

March 2013
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Main

Categories:

Archives:


Links

Meta:


Universitas………kapan, kapan, kapan ………?

March 25, 2013
Filed under: News — ajiksujoko @ 10:30 am

Banyak perguruan tinggi/universitas-universitas PTN/PTS mempunyai visi dan misi yang hanya “nimbrung trend” atau ikut-ikutan tanpa diproyeksikan visi dan misi tersebut. Begitu “ndakik” visi dan misi tersebut, namun tidak ada perubahan yang berarti bagi kemajuan universitas itu sendiri, bahkan hasil visi dan misinya para alumni sudah memiliki gelar sarjana, namun masih menyandang gelar “pengangguran”. Nah, kalu fakta real seperti itu, apakah universitas tersebut masih mau mempertahankan visi dan misinya ? Namun anehnya sang calon pemimpin dikala menyampaiakan visi misinya yang begitu nge trend kok ya dipilih…..Tulisan berikut ini bukan untuk menyingung masalah visi dan misi univeritas si A, B dan seterusnya atau menampakkan kekurangan produk universitas.

Universitas yang sejahtera sebagai alternatif keluar dari pikiran memusingkan dari segala macam ide, visi dan misi yang berkhayal. Meskipun sederhana dan mudah membacanya, namun sulit juga untuk mewujudkannya. Bukannya pesimis, namun tetap optimis dengan adanya dan berdirinya universitas baik PTN maupun PTS, mewujudkan universitas yang sejahtera bukan hal yang mudah. “Sejahtera” mungkin identik dengan sejahtera dosennya, sejahtera karyawannya, sejahtera mahasiswanya. Tidak hanya secara finansial, kebutuhan mereka terpenuhi, juga rasa bangga dan tercukupi bisa menjadi anggota civitas di suatu universitas.

Kebutuhan suatu universitas tidaklah sedikit. Banyak hal yang perlu dan harus dibiayai agar kegiatan utama dapat berjalan. Tri Dharma Perguruan Tinggi, slogan dan dasar dapat berdirinya universitas. Pendidikan, Pengabdian dan Penelitian. Sekiranya tiga hal tersebut yang menjadikan universitas sebagai tempat civitas akademik berkarya.

Mahasiswa yang baik berangkat ke kampus dengan tujuan mencari ilmu dan belajar. Dibekali ilmu & pengetahuan dari Bapak / Ibu Dosen, maupun pengalaman selama kuliah seperti pengabdian pada masyarakat, serta pengalaman penelitian seyogyanya membawa ilmu yang diperolehnya bermanfaat untuk masyarakat. Belajar beneran, biar cepat lulus. Maksudnya biar tidak menjadi mahasiswa abadi, apalagi menjadi beban Universitas. Mahasiswa tertib membayar biaya yang sudah diwajibkan. Mendapatkan beasiswa bagi yang mendapatkannya. Sudah tidak jamannya mahasiswa ikut tawuran, apalagi melakukan hal yang asusila. Masak mahasiswa melakukan “hubungan intim” belum nikah (kawin…kawin………biar jelas ) di lingkungan kampus….? Di hotel saja tidak  Ya jangan sampai lah, kecuali yang kepepet…..Kalau kepepet harus nikah dulu. Tapi tekadang merasa tidak fair, tidak adil, seperti dizalimi….Mengapa ? Ketika mahasiswa dengan IP pas-pasan kadang mepet ke angka 2, setelah lulus mereka mudah mendapatkan pekerjaan yang bagus atau bonafit. Tapi bagi yang lulus dengan predikat Cumlaude, banyak yang kesulitan mendapatkan pekerjaan setelah lulus…Apa nya yang salah? Itu kan hanya tekadang….tapi dirasa juga banyak yang mengalaminya..

Demikian pula dosen yang baik, beliau-beliau mengajari mahasiswa sesuai keilmuan yang mereka miliki. Menggali potensi masalah yang dapat dijadikan penelitian yang bermanfaat, serta mengabdi pada masyarkat pula. Menjadi ketua RT misalnya…..Maklum kalau dosen itu sedikit berwibawa jika ada di masyarakat. Tapi masih banyak wibawanya dengan Pak Lurah…(gak mbandingkan…..sekedar “wang sinawang” basa jawanya). Sudah mendapat tunjangan seperti serdos, bagi yang mendapatkannya, tapi harus merasa kesal jika mengisi data – data agar tunjangan serdosnya keluar. Melakukan penelitian yang belum pernah dilakukan dosen lainnya…kalau proposal penelitiannya “goal”. Kalau tidak ya wassalam. Maklum menggantungkan biaya penelitian dari Fakultas/Universitas…Eit….eit….emang kalau tidak dibantu tidak mau penelitian apa?……..Of course may be…..apa masih kurang tunjangan serdosnya?

Lain hal pula dengan karyawan. Karyawan yang baik masuk sesuai jam kerja, pulang sesuai jam kerja, terlambat nol koma satu detik dipotong tunjangannya…emang dapat tunjangan apa bro…eh mas bro….Bekerja sesuai tupoksinya. Kalau bukan tupoksi harus dibuatkan surat tugas. Kalau sudah menjadi tupoksinya ya dibuat-buatkan surat tugas. Jam kerja ditambah,,,,””@%S(..sdd5%”””, bunyi karyawan sampai ke telinga sang pimpinan. Sebenarya bekerja bukan dibawah tekanan (underpressure), namun rasanya di bawah tekanan…Mengapa ? rasa tercukupi kebutuhan yang dirasa kurang.

Suatu universitas bediri megah, dan masyarakat mengakuinya, bahkan di tingkat nasional pun diakui. Apalagi gedungnya kelihatan megah….(kalau orang kampung datang,,,,hanya berguman..wah,,….. kuat gak ya kuliah …?). Syukur-syukur mempunyai jejeraing transnasional. Maksudnya mempunyai hubungan bilateral akademik dengan universitas luar negeri yang bagus. Namun kondisi intern suatu universitas yang terdiri dari civitas akademika yang tidak kondusif, lambat laut akan menyebabkan program tri dharma perguruan tinggi akan lamban, bahkan kurang menghasilkan.

Belajar dari perusahaan yang mengejar produk. Bagaimana mereka menghasilkan produk yang layak dijual dipasar dan mereka lihai dalam memasarkan produk-poduknya. Toh, produk akan dibeli oleh para konsumen. Kembali pada perusahaan itu, sumber daya mereka kerahakan untuk mendukung terciptanya produk yang layak dijual. Maksudnya segala sumber daya diupayakan untuk mewujudkan visi misinya. Perusahaan tidak segan memberikan gaji tinggi dan bonus pada karyawan. Suatu konsep dalam berbisnis, bahwa konsumen nomor satu adalah karyawan anda. Dalam perusahaan, karyawan bekerja dengan semangat, bahkan korupsi pun tidak sempat melakukan. Proyeksi konsep tersebut bisa dilihat contoh yang ada. Banyak BUMN yang memberikan gaji tinggi dari pimpinan sampai karyawan level bawah, bahkan pekerja outsourcingnya seperti pelayan kebersihan dapat merasakan hidup nyawan dan kecukupan bekerja sebagai outsourcing di perusahaannya. Barangkali kalau menengok karyawan/pegawai KPK……mereka berani menerima gaji tinggi, bekerja tanpa korupsi..memang slogannya memerangi korupsi. Beberapa kementerian yang dinilai layak mendapatkan remunerasi.        Intinya sejahterkan dulu konsumen pertama anda, baru sejahterkan konsumen anda yang kedua, yaitu pembeli produk anda.

Bukannya tidak menganalogikan perusahaan dengan perguruan tinggi. Hanya “ngepas-ngepaske”. Semisal produk utama perguruan tinggi adalah mahasiswa, tentu sang konsumen kedua perguruan tinggi adalah masyarakat pengguna ilmu dan keterampilan mahasiswa itu. Tentu konsumen pertama perguruan tinggi adalah dosen dan karyawannya. Tridaharma perguruan tinggi sebagai modal mencetak produk yang berkualitas agar layak jual di pasar. Maksudnya mahasiswa bila lulus kuliah cepat mendapatkan pekerjaan atau menciptakan lapangan pekerjaan. “Lulus kuliah terus kawin wae….” Tentunya perguruan tinggi jangan biarkan mahasiswanya teromabang-ambing dalam kesusahan mencari pekerjaan. Promosikan mereka, pasarkan mereka….Beranikah wahai perguruan tinggi ? “ben do payu ndang kerjo”

Memang tekadang visi misi suatu perguruan tinggi itu sangat tidak rasional, hanya melihat “gebyare trend”…. Mensejahterahkan karyawan saja belum bisa, apalagi mencetak lulusan berkualitas…?

Kalau yang diatas “ngepas-ngepaske”, kalau yang ini mencoba ngepaske…Tekadang perguruan tinggi itu disorot berbagai pihak…Mengapa ? alokasi anggaran dua puluh persen untuk pendidikan. Anggaran yang nilainya tinggi yang diberikan oleh pemerintah. Namanya anggaran tentunya sangat berhubungan dengan uang. Munculnya anggaran sekian, karena bisa dinilai dengan uang. Namanya uang, hampir sebagian kecil orang yang tidak membutuhkan. Oleh karena itu wajar kalau uang yang banyak untuk pendidikan menjadi sorotan berbagai pihak. Namanya uang sudah biasa menjadi incaran dan rebutan banyak orang. Bagaimana uang banyak tersebut tidak hanya dimiliki oleh orang/pihak tertentu, bagaimana berbagi uang sebanyak itu dan pada akhirnya bagaimana mendapatkan uang tersebut. Berbagai cara…..politik sekali…sesuai namanya politik itu berbagai cara agar maksudnya dapat. Jadi jangan heran dengan alasan tidak wajar peniliannya, dianggap tidak layak mendapatkan uang banyak. Bahkan uang pun ditunda diberikan. Siapa pihak tersebut yang berani menunda uang membiayai untuk pendidikan ?….cuih………..belum pernah merasakan sekolah apa…..   

Kalau uang untuk membiayai tridharma perguruan tinggi ditunda, kapan majunya?  kapan sejahteranya ?

 

Share on Facebook

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. | TrackBack URI

Leave a comment

XHTML ( You can use these tags): <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> .

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.

*


Sunflowers Theme by Pello Xabier Altadill Izura