Ajik Ajik
Web Blog Undip Web Blog Undip

Calendar

April 2013
M T W T F S S
« Mar   May »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Main

Categories:

Archives:


Links

Meta:


Nama dan Politik

April 16, 2013
Filed under: Cerita Bebas — ajiksujoko @ 1:20 pm

Mbok Sri, Yu Sri, Bu Sri,….memang nama yang identik dengan penjual makanan (Jawa : sego pecel). Pak Man, Pak No,….identik dengan nama penjual Soto Ayam. Pak Min identik dengan nama penjual sop ayam….Dan masih banyak lagi nama yang sudah memasyarakat, di mana nama-nama tersebut terpampang dan sudah banyak dikenal orang di daerahnya. Bahkan sudah dikenal lintas daerah. Memang mencari makanan khas di setiap daerah tidak akan habisnya. Dan selalu memunculkan nama yang khas pula. Yaitu nama sang pemilik / sang penjual makanan tersebut. Lain lagi kalo Rumah Makan Padang. Tidak ada “embel-embel” nama sang pemilik. Ada juga Warteg (warung tegal) yang tidak diberi label pemiliknya. Lain pula dengan Sate ayam/kambing Madura “Cak ….”.

Tekadang label nama pemilik memiliki “tuah” tersendiri bagi usahanya. Semisal, nyatanya warung soto dengan penjual yang namanya pak man, atau pun pak no. Laris manis dan banyak digemari penjajanya. Membicarakan kuliner memang menyenangkan, tentunya bagi sang penggemarnya. Lain halnya membicarakan mengenai hukum, tentunya bagi sang pemerhatinya sangat mengasyikkan. Membicarakan balita, tentunya sangat menyenangkan bagi sang ibu-ibu yang masih sering ke posyandu. Membicarakan politik, menyenangkan pula bagi orang yang berkecimpung dalam dunia politik dan bahkan orang awan yang heran dengan dunia politik. Dan lain sebagainya dan seterusnya….memang bahan pembicaraan tidak akan matinya.

Sedikit menyinggung politik, meskipun bukan orang partai politik…Ternyata label nama seseorang juga berkaitan erat dengan politik. Entah itu bertuah atau tidak namanya. Buktinya, ada pooling pemilihan presiden/wapres, pemilihan gubernur/wakil gubernur, bupati/walikota dan wakilnya, pemilihan anggota DPR/DPRD,DPD dan seterusnya. Jelas sekali….nama seseorang yang terpampang. Misal si A & B bakal calon gubernur /wakil gubernur daerah XXXX. Mungkin bagi orang yang ingin cepat dikenal namanya, melalui ajang seleksi pemilihan kepala negara/daerah, anggota badan legislatif adalah cara yang jitu. So pasti kalo sudah masuh daftar bakal calon atau calon, tidak hanya namanya yang mengorbit, tapi fotonya juga terpampang di mana-mana. Di media seperti baliho, gedung-gedung, media masa, media elektronik bahkan di pohon-pohon pinggir jalan. Memang cara pengenalan nama dan wajah orang melalui foto sangat efisien dilakukan di media tersebut. Efisiensi tersebut sudah sangat jelas dimanfaatkan kaum industri di bidang media masa dan media elektronik.

Memang dimaklumi nama-nama yang duduk menjabat sebagai presiden/wapres, kepala daerah/wakilnya, maupun anggota legislatif, akan dikenal banyak orang setelah ia menjabatnya. Selain itu tidak sedikit fasilitas maupun materi yang ia perolehnya. Selain itu, dengan pemikirannya ia dapat menyalurkan aspirasinya/aspirasi yang diwakilinya. Tidak mustahil “jabatan-jabatan” tersebut akan dikejar oleh banyak orang yang ingin mengorbitkan namanya. Memang tidak sedikit orang yang mengejar jabatan-jabatan tersebut adalah pengusaha. Apakah yang akan ia jual kalau ia mendapatkan jabatannya tersebut? Kalau pun bukan seorang pengusaha akan menjual apa, bila ia mendapatkan jabatannya ? Apakah idealismenya, atau kemampuannya, atau kah kepintarannya ? Tidak sedikit banyak yang menuai masalah para pemangku jabatan-jabatan tersebut. Baik bertemu masalah hukum maupun masalah politik. Tentunya ada sampelnya. Namanya si Z yang harus menerima tuntutan hukum tertentu karena melakukan korupsi. Ada juga yang namanya si X yang harus dikeluarkan dari anggota partai politiknya.

Terkadang bagi orang tertentu aneh juga melakukan hal yang aneh-aneh…misalnya memaksa sang calon pemangku jabatan untuk melakukan kontrak politik. Tidak ada dasar konstituennya dalam berpolitik. Visi misi sang “calon pemangku jabatan” tidak bisa dijadikan dasar hukum melakukan kontrak politik. Misalnya, apabila sang calon pemangku jabatan terbukti melakukan korupsi akan bersedia mengundurkan diri dari jabatannya dan lain sebagainya bentuk-bentuk yang kontrak politik yang aneh-aneh. Kalaupun ada pemangku jabatan yang terbukti melanggar visi misinya, toh lebih mudah dilarikan dalam urusan hukum. Tak jarang nama pemangku jabatan yang Kontrak yang semula dikenal dalam dunia bisnis/perdagangan ternyata meluas dalam dunia politik. Kontrak dalam dunia  bisnis sangat kental dengan istilah perjanjian khusunya dalam hal jual beli, atapun menjanjikan sesuatu yang akan dilakukan. Jadi jangan heran kalau terjadi praktik jual beli dalam mengejar jabatan. Mengapa demikian ? Sejak awal sudah diberikan pilihan kontrak. Apa yang bisa dijual dan apa yang bisa dibeli dari jabatan ? itu logisnya.

Selain dihadapkan kontrak politik yang aneh-aneh, calon pemangku jabatan pun dihadapkan pada peta politik yang berfluktuasi. Maksudnya tidak ada sesuatu hal yang pasti untuk memastikan calon pemangku jabatan dapat menduduki jabatannya. Terkadang aneh pula, sang parpol mengusung nama-nama calon pemangku jabatan kepala daerah yang belum banyak dikenal masyarakat di daerah tersebut. Semakin terkenal nama dan memasyarakat, akan banyak diincar dan diusung oleh parpol. Bahkan secara jamaah, parpol mengusung namanya. Apalagi kalau peluang namanya banyak digemari masyarakat daerah tersebut. Bagi parpol pengusung sih, tak ada ruginya. Yang penting “pendapatan” dan target suara” yang diharapkan tetap terpenuhi. Meskipun calon kepala daerah yang ia usung tidak jadi, toh pendapatannya tetap ada. Memang situasi demokrasi yang menguras uang untuk menjadi calon pemangku jabatan. Entah yang dikuras uangnya si Xman atau sang donator. Mungkin ini yang namanya “demokrasi beneran”. Sebuah lakon politik.

Kendati praktik pengurasan uang yang begitu besar dalam proses pemilihan calon pemangku jabatan, dalam proses hukum tidak dikenal adanya pengurasan. Yang ada dan dikenal adalah pemerasan. Dan anehnya tidak ada kasus hukum yang mencuat terkait pemerasan dalam pemilihan calon pemangku jabatan.

Memang lain dengan tipikal pak no, pak man, yu sri atau pun mbok sri. Berharap dengan namanya, dagangannya akal laris diserbu pembeli dan menjadi ikon dagangannya. Sehingga barang dagangannya yang dijual akan habis dan harapannya akan mendapatkan keuntungan. Halalan toyyiba. Tidak disibukkan dengan jabatan dan politik apalagi demokrasi.

Kalau begitu enakan mana ya………..? Ya kalau bukan namanya sri, tidak akan seperti yu sri lah………………….Yang penting namanya memberikan berkah bagi dirinya sendiri, syukur-syukur bagi masyarakat banyak. Yang suka berpolitik silakan bermain politik, yang suka kuliner silakan pilih-pilih menu makanan.

Share on Facebook

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. | TrackBack URI

Leave a comment

XHTML ( You can use these tags): <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> .

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.

*


Sunflowers Theme by Pello Xabier Altadill Izura