Ajik Ajik
Web Blog Undip Web Blog Undip

Calendar

July 2013
M T W T F S S
« May   Sep »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Main

Categories:

Archives:


Links

Meta:


Milih dadi guru opo dadi murid ?

July 17, 2013
Filed under: Cerita Bebas — ajiksujoko @ 10:28 am

Menjadi guru atau murid adalah pilihan. Menjadi dua-dua nya pun suatu pilihan. Bahkan tidak menjadi dua-duanya adalah juga pilihan. Orang memiliki ilmu maupun pengetahuan adalah suatu keharusan. Tanpa bekal tersebut niscaya cara mereka hidup akan berbeda dengan orang yang memilikinya. Sebagian beranggapan berkaitan dengan hal atau sesuatu yang sifatnya ukhrowi, untuk mendapatkan ilmu harus ada gurunya. Lain halnya dengan yang bersifat duniawai, tanpa guru pun boleh jadi mendapatkan ilmu dari berbagai media.

Guru identik dengan pak guru atau bu guru yang mengajar di sekolah dari tingkat PAUD sampai dengan SMA atau sederajat. Sedangkan anak didiknya biasa disebut murid atau siswa. Dosen identik dengan pengajar di perguruan tinggi, sedangkan mahasiswa adalah anak didiknya. Kyai identik dengan guru bagi para santri yang menimba ilmu di pondok pesanteran atau bukan. Hal tersebut kiranya tidaklah keliru.

Dalam perkembangan di dunia pendidikan formal pun banyak yang berlomba menjadi guru ataupun murid. Buktinya banyak lowongan menjadi tenaga pendidik (guru/dosen) baik di lingkungan instansi negeri maupun swasta. Bahkan konon, di luar jawa, malah kekurangan guru. Dan yang “antre” menjadi guru PNS pun banyak peminatnya. Bahkan metode “sogok-menyogok” atau suap masih kerap melanda karena “saking penginnya” jadi guru, Ini membuktikan bahwa keinginan menjadi guru sangat banyak. Entah itu karena nilai atau penghargaan terhadap guru sudah berbeda dengan guru era masa lalu atau entah kenapa ? Dari sisi ekonomi, yang jelas pendapatan yang diperoleh seorang guru era sekarang jauh lebih baik guru era dahulu. Itu bagi yang beruntung dan menikmatinya. Tidak hanya menjadi guru yang banyak diminati, menjadi murid pun demikian. Seolah-olah saling berlomba untuk menjadi guru atau murid. Buktinya ketika ada penerimaan peserta didik baik di sekolah pra dasar, dasar bahkan sampai perguruan tinggi, begitu antusias dan berkompetisi untuk menjadi murid di sekolah yang ia inginkan. Meskipun ia sekolah di sekolah negeri atau swasta, PTN/PTS, statusnya ia tetap seorang murid.

Sebagai tuntutan dari perkembangan didunia pendidikan formal pun seorang guru SD harus berijasahkan Sarjana, seorang dosen pun minimal memiliki gelar Magister dan seterusnya. Itu artinya seorang yang sudah menjadi guru di tingkat dasar atau pun dosen memiliki kewajiban menuntut ilmu di tingkat yang lebih atas. Artinya mereka akan menjadi murid juga di civitas akademik suatu perguruan tinggi. Entah itu yang penting dapat ijasahnya atau yang lain, kewajiban tersebut harus mereka tempuh.

Lain halnya di dunia nonformal. Katakanlah pondok pesantren. Entah itu yang kuno “salaf” atau pun yang modern. Entah itu yang khusus mengajarkan kitab-kitab tertentu atau hal yang lainnya. Sebutan guru di pondok pesantren pun juga berbeda. Sebutan guru bagi pondok pesantren salaf biasa disebut Kyai. Sebutan ustadz biasa dipakai di pondok modern. Lain lagi bagi sang murid di pondok pesantren, biasa disebut santri atau sebutan lainnya. Di dalam perkembangannya pun sudah banyak di lingkungan pondok pesantren yang berdiri sekolah untuk pendidikan formal. Entah itu untuk menarik calon murid atau hal yang lain.

Di dunia pendidikan selalu terjadi pasang surut. Artinya tidak hanya suatu sekolah/perguruan tinggi atau tempat pendidikan informal (pondok pesantren) yang akan selalu memunculkan grafik ke atas. Maksudnya akan selalu tumbuh berkembang atau pun akan mundur. Sejarah akan selalu membuktikan dan selalu terbukti. Tidak jauh-jauh contohnya. Sekolah Dasar di daerah terpencil yang didirikan hanya dapat beberapa tahun bertahan. Peradaban masa lalu yang membuktikan adanya sekolah-sekolah, ma’had, universitas yang tinggal sejarah. Atau pun pondok pesantren yang tinggal “petilasan” karena ditinggal “pulang kampung” para santrinya.

Tidak hanya tempat pendidikan yang terjadi pasang surut. Bahkan jumlah murid yang tertampung pun akan mengalami pasang surut juga. Bagi PTN tahun ini mungkin baru ngeBOOM bisa menjaring mahasiswa yang banyak. Bahkan sudah melebihi target. Atau PTS yang sudah mulai “bubar” bahkan tinggal nama. Hal tersebut bisa jadi akan terbalik di beberapa tahun kemudian. Sebuah pondok pesantren yang “ramai” santrinya karena sang kyai masih hidup, begitu mulai pudar santrinya karena sang kyai meninggal.

Dahulu, sebelum pendidikan formal mulai nge “trend”, begitu banyak pondok pesantren di wilayah Nusantara. Orang dahulu beranggapan, malu memiliki anak yang tidak “dipondokkan”. Maksudnya belajar di suatu pondok pesantren. Bahkan memiliki anak yang belajar di pondok pesantren akan menambah nilai/prestise bagi sang orang tua. Rupanya nilai/prestise dahulu mulai dan sebagian sudah beralih menyekolahkan anak ke pendidikan formal. Kalau bagi yang ingin menambah prestis lagi, sang anak disekolahkan di pendidikan formal juga belajar di pondok pesantren. Memang yang dicari bukan sekedar prestis/kebanggaan bagi orang tua maupun bagi diri sang anak. Tentu ilmu untuk bekal bagi sang anak kelak.

Memang terlalu berbeda hal yang didapat belajar dari pondok pesantren dengan pendidikan formal. Yang jelas, kalau di pondok pesantren santri yang mujur mendapatkan ijazah dari sang kyai atau ustadz. Bukan ijazah seperti selembar hasil sekolah, namun ijazah untuk mengamalkan ilmu atau kitab kepada orang lain atau untuk dirinya sendiri. Dari segi cara belajar pun di lingkungan pondok pesantren akan berbeda dengan di lingkungan pendidikan formal. Dari jumlah biaya yang dikeluarkan murid pun akan berbeda pula. Mungkin betul juga, bila yang lagi nge-trend itu banyak dicari. Karena banyak dicari inilah yang menyebabkan nilainya mahal. Oleh sebab itu tidak mustahil biaya yang dikeluarkan sekolah di pendidikan formal lebih mahal dibanding di pendidikan non formal. Mata pencaharian atau pekerjaan yang didapat bagi lulusan pondok pesantren pun banyak berbeda dengan lulusan sekolah formal. Yang jelas untuk menjadi PNS atau masuk BUMN/perusahaan swasta perlu memiliki ijazah dari sekolah formal. Namun demikian, tidak jarang pula alumni suatu pondok pesantren salaf/modern yang  menjadi PNS. Hanya pada umumnya bidang swasta khususnya perdagangan yang banyak digeluti oleh alumni pondok pesantren. Mengikuti sunah rosul Allah. Tidak jarang pula mereka yang duduk di bangku legislatif. Bahkan sejarah Nasional mencatat, putra dan cucu seorang Kyai menjadi Presiden RI.

Bukan menjadi seorang PNS, Pedagang, atau anggota dewan, pekerjaan lain, bahkan menjadi seorang Presiden maksud dari belajar di lingkungan pendidikan formal atau pendidikan non formal semacam pondok pesantren. Kiranya dan seandainya bagi murid yang lulus dari pondok pesantren atau pun sekolah formal, bila berkesempatan menjadi PNS, anggota dewan atau bekerja di bidang apa pun, menjadi seorang yang baik dan jujur. “Santri iku ora kudu dadi kyai…….nak dadi pegawai, dadi pegawai sing jujur, nak dadi pedagang dadi pedagang sing jujur, nak dadi pengusaha, dadi pengusaha sing jujur, nak dadi petani, petani sing jujur, nak dadi pejabat sing jujur…” kurang lebih suatu pesan seorang Guru saya. Kiranya lulus menjadi seorang sarjana pun tidak usah malu menjadi seorang pedagang atau pun petani. Tidak hanya menunggu seleksi PNS saja. Sejarah dan fakta membuktikan orang kaya sebagai besar adalah seorang pengusaha.

Kiranya seorang murid dari alumni pendidikan formal mapun non formal (pondok pesantren) adalah orang baik dan jujur, niscaya ilmu yang didapatnya sewaktu belajar akan membawa manfaat di dalam kehidupan sehari-hari. Entah waktu ia bekerja atau pun tidak. Tidak sekedar, itu seorang guru yang telah mengajarkan ilmu kepada sang murid yang baik dan jujur tersebut akan “mengunduh” amalnya karena keikhlasannya mengajarkan ilmunya.

Kiranya suri tauladan para sahabat Nabi yang selalu setia menimba ilmu dari Nabi. Sahabat istilah “enaknya” / familiar nya, “ngu wongke” bagi bagi Nabi terhadap murid-muridnya. Beliau memanggil mereka sahabat (“konco=jawa”). Bukannya dengan muridku. Itu adalah akhlak cara Nabi. Menjadi guru pun sebenarnya memiliki tanggung jawab mengajar moral dan etika kepada murid-muridnya. Namun kebanyakan hanya sekedar ilustrasi jaman sekarang, sorang guru memanggil atau pun ditanya tentang muridnya. …”Ia adalah santriku……….., ia muridku………….ia mahasiswaku…….” Itu  baru ilustrasi kecil cara bergaul…………yang lain tentunya masih perlu belajar……………………..

Bagi seorang murid pun memiliki tanggung jawab, tidak hanya sekedar belajar, namun bagaimana ilmu yang ia dapat tidak putus…artinya tidak hanya putus hubungan dengan guru. Bahkan orang-orang alim jaman dahulu akan selalau menjadikan guru tempat ia balajar menjadi gurunya. Meskipun orang-orang alim tersebut secara keilmuan dan kecerdasannya sudah setara atau lebih tinggi dari gurunya. Namun sebagai bentuk “takdim” / hormat kepada gurunya, orang-orang alim tersebut tetap menjaga agar ia diakui sebagai murid dari gurunya.

Implementasi menjadi guru dan murid memang sama-sama berat. Dan kewajiban yang dipikul juga sama-sama berat. Kalo begitu…………..tinggal pilih, mau menjadi guru atau murid…???

Share on Facebook

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. | TrackBack URI

Leave a comment

XHTML ( You can use these tags): <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> .

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.

*


Sunflowers Theme by Pello Xabier Altadill Izura