Ajik Ajik
Web Blog Undip Web Blog Undip

Calendar

March 2014
M T W T F S S
« Dec   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Main

Categories:

Archives:


Links

Meta:


Pengin jadi guru, kok ya harus neko-neko

March 28, 2014
Filed under: Cerita Bebas — ajiksujoko @ 11:24 am

Hasil seleksi CPNS 2013, khususnya untuk mengisi lowongan sebagai guru cukup banyak menuai masalah. Banyak diberitakan di berbagai media baik surat kabar maupun jejaring sosial dan internet. Mulai dari hal yang sederhana bentuknya, seperti pamalsuan dokumen, menyuap, sampai peneroran. Dan kejadian tersebut hampir di berbagai daerah. Dari permasalahan tersebut mengindikasikan bahwa lowongan menjadi guru banyak diminati dan harus “antre”. Tentunya menjadi guru PNS.

Menjadi guru (digugu lan ditiru = Jawa), era gaji dibawah tekanan untuk hidup layak, kurang diminati. Besar pengabdian bagi mereka dan sangat luar biasa dalam mendidikan anak asuhnya (siswanya). Berbagai mata pelajaran mereka kuasai. Hal ini dimaklumi karena jumlah mereka yang tidak sebanding dengan jumlah siswa dan kelasnya. Meskipun berbekal lulusan SMA/D3, mereka pada akhirnya harus menyesuaikan ijasahnya kembali pada era gaji cukup layak. Sekarang di era gaji lebih dari cukup, menjadi guru harus dituntut lebih. Tuntutan tersebut antara lain, formalitas ijasah yang harus dimiliki. Bidang keilmuan yang sesuai dengan pelajaran yang akan diampu dan sebagainya.

Era gaji dibawah tekanan untuk hidup layak bagi guru, tidak ada bahkan sayup-sayup mendengar isu suap untuk menjadi guru. Jikalau ada pun tidak seheboh di era gaji lebih dari cukup. Meskipun praktik suap pun sejak sebelum reformasi 1998 pun banyak dilakukan (“kalau mau jujur”). Setelah era keterbukaan informasi, maka akses info yang sayup-sayup mengarah pada indikasi-indikasi ke”tidak jujuran” seperti pada masalah seleksi CPNS 2013 dengan mudah diakses. Era gaji lebih dari cukup bagi guru menjanjikan kesejahteraan bagi guru, tapi tidak tahu kapan akan bertahan berapa lama. Karena itu maklum menjadi guru banyak peminatnya.

Mendekati “tahun ajaran” politik 2014, isu atau masalah hal seputar guru patut dipertimbangkan. Membuat gaji kurang/pas-pasan/lebih dari cukup adalah kebijakan politik. Buktinya “goal”nya anggaran 20 % untuk pendidikan. Termasuk pemberian kesejahteraan guru, meskipun implementasinya  ?????. Tentunya bagi mereka yang yang diterima sebagai CPNS guru mudah untuk ditumpangi kepentingan politik bagi calon-calon legislatif. Terlebih lagi CPNS tersebar di daerah-daerah. Berdalih memperjuangkan guru, meskipun “beneran”, toh itu kepentingan politik juga.

“Ya kalau mau ditempatkan dekat “home” nya perlu tambah biaya dong. Coba bayangkan seandainya CPNS guru jarak antara tempat tinggal dengan sekolah yang ia ajar 30 km/lebih dan harus menempuh jalan berliku-liku. Setiap hari berapa rupiah untuk mengeluarkan biaya perjalanannya. Pernyataan siap ditempatkan di seluruh NKRI sepertinya berbanding terbalik dengan kenyataan. Contoh peluang semacam ini menimbulkan akibat yang disebut suap. Boleh dikata suap muncul “karena terpaksa”. Terpaksa bisa dipaksa atau pun memaksakan.

Dipaksa konotasinya pasif, sedangkan memaksakan konotasinya aktif. Konotasi pasif misalnya kepala BKD di daerah tertentu dipaksa menerima suap oleh calon peserta CPNS baik secara langsung maupun lewat perantara bukan karena sama-sama menghendaki, namun karena ada ancaman (secara fisik/politik/ekonomi/sosial dll.). Calon CPNS dipaksa membayar suap oleh kepala BKD di daerah tertentu secara langsung atau lewat perantara karena ada ancaman (secara fisik/politik/ekonomi/sosial dll.) Konotasi aktif adalah kebalikan konotasi pasif di atas. Yang umum terjadi pemberi suap adalah calon CPNS. Mungkin aneh dan tidak nalar,  Kepala BKD di daerah tertentu memberi suap kepada calon CPNS tertentu. Kalau calon legislatif memberi sesuatu yang bernilai kepada calon CPNS tentunya bukan dikatakan suap, melainkan “money politik” familiarnya.

Barulah kalau sudah terbiasa dipaksa dan memaksakan sudah menjadi kebiasaan dan pada akhirnya menjadi budaya. Budaya ini pada akhirnya tidak lagi memunculkan dipaksa dan memaksakan, namun sudah sama-sama menghendaki. Menerima dan menerima suap pun terjadi karena sama-sama menghendaki. Menjadi CPNS harus membayar uang sekian dan seterusnya. “brand / image / stigma ” menjadi CPNS harus membayar ternyata masih berlaku juga seperti masalah seleksi CPNS 2013. Bagi yang merasa tidak lolos menjadi CPNS karena sudah terlanjur dipaksa memberi suap, tentu “terasa tidak adil”. Semoga saja yang dikabarkan di media surat kabar/internet, bukan mereka yang merasakan terasa tidak adil.

Bagi yang seratus persen tanpa ada masalah diterima sebagai CPNS untuk guru, kiranya bersyukur. Tidak perlu aneh-aneh (“neko-neko”) yang menuai masalah. Tidak hanya proses seleksi CPNS guru, menjadi guru pun banyak yang neko-neko. Sekedar cerita saja: ketika saya sekolah dibangku setingkat SMK, guru saya ini orangnya tempramen, maksudnya mudah marah bila tersungging, eh ..tersinggung. Kebetulan siswanya bikin belau “gerah”. Maka marahlah beliau. Lantas sang siswa itu mau diajak “duel”. Kebetulan saja sang bapak kepala sekolah yang bijak dapat melerai dan mendamaikannya. Sang bapak sekolah lantas berujar dan memberikan wejangan kepada guru saya : “kowe ki dadi guru yo tetep guru, guru ora mung nang sekolah, tapi yo nang luar sekolah” (kamu ini menjadi guru ya tetap guru, guru tidak hanya di sekolah, namun juga di luar sekolah). Maksudnya guru itu memberi contoh (karena digugu lan ditiru) tidak hanya di sekolah namun juga di luar sekolah.

Hanya berpikir buruk saja , bagaimana mungkin menjadi guru dalam seleksinya neko-neko akan menjadi guru yang bisa memberi contoh dan dapat diikuti. Semoga Era gaji lebih dari cukup bagi guru, lebih banyak guru yang mendedikasikan ilmu dan pengetahuannya kepada siswanya. Bener-bener menjadi guru (digugu lan ditiru).

Share on Facebook

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. | TrackBack URI

Leave a comment

XHTML ( You can use these tags): <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> .

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.

*


Sunflowers Theme by Pello Xabier Altadill Izura