Ajik Ajik
Web Blog Undip Web Blog Undip

Calendar

April 2014
M T W T F S S
« Mar   Dec »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Main

Categories:

Archives:


Links

Meta:


Tata kerama money politik

April 23, 2014
Filed under: Cerita Bebas — ajiksujoko @ 3:43 pm

Berita politik memang tidak ada matinya. Terlebih lagi sebelum, masa dan pasca pemilu headline news selalu berkutat sekitar politik. Jejak calon politikus ketika kampanye pun bermunculan. Bahkan politikus yang meraih banyak suara mengorbitkan namanya di kancah perpolitikan. Beragam cara para politikus mendapatkan suara sebanyak mungkin. Dari yang mendapatkan dukungan dari “warganya/keluarganya”, sampai berkunjung tiap keluarga, bahkan sampai pemberian bantuan/santunan.

Hanya sekedar cerita,…bukannya menggambarkan realita cara-cara calon politikus mendapatkan dukungan dan suara. Kebetulan ada tetangga kecamatan yang maju dalam caleg pemilu 2014. Sebenarnya tetangga tersebut sudah menjadi anggota legislatif daerah, dan masih berminat sekali maju dalam putaran caleg 2014. Begitu ia masuk urutan dengan nomor tertentu dari partainya, ternyata dukungan dari warga sekitar mengalir. Tidak hanya itu, warga di luar kecamatannya pun berduyun-duyun memberikan dukungan, tentunya dengan perwakilan pak RT atau pak RW atau ketua paguyuban/organisasi tertentu. Perwakilan yang menghadap ke caleg ternyata selain memberikan dukungan, juga menyodorkan proposal.

Proposal tersebut antara lain, pembangunan jalan, irigasi, bantuan untuk warga yang siap mendukung/mencobolos pada pemilu, seragam/pakaian, dan yang lainnya. Seandainya “anda” jika menghadapai proposal tersebut, bagaimana anda akan menanggapinya ?,…memberikan janji atau memberikan bukti ?..Nah, kalau anda memberikan janji, tentu akan ditanya kapan teralisir proposal perwakilan yang menghadap ke caleg. Mau sebelum pemilu atau sesudah pemilu atau kalau sudah jadi dewan legislatif ? sedang kalu anda memberikan bukti, akan dilontarkan persamaan yang sama dengan memberikan janji.

Pengalaman caleg seperti tetangga di atas mungkin hampir sama dialami oleh caleg lainnya di berbagai daerah. Kalau memiiki modal banyak pilihan memberikan bukti akan segera teralisir dari berbagai proposal di atas. Namun kalau modal janji, siapa yang mau percaya ?. Warga semakin “cerdas” dalam berpolitik. Lagi pula, kesempatan baik untuk mendapatkan bantuan… “la wong cuma 5 tahun sekali”. Belum tentu dalam kurun lima waktu ke depan program dari proposal di atas dapat terwujud, kalau tak ada dukungan dari caleg.

Lain lagi, yang konon ada caleg yang betul-betul didukung warganya, dan ternyata berhasil mendapatkan kursi dewan. Tak tau apakah sudah ada proposal dari perwakilan warga kepada caleg tersebut apa memang betul-betul murni dukungan tanpa ada harapan.  Bermodal silaturahmi, mengunjungi warga ternyata ia memperoleh banyak suara. Mungkin prestasi baik di masyarakat yang membuat ia betul-betul didukung warganya.

Lain lagi pula, hampir sama dengan caleg yang bermodal silaturahmi ke warga dan bermodal “pas-pasan”. Ternyata nasib kurang mendukungnya, bahkan banyak warga yang tidak begitu simpati. Mungkin untuk modal awal dan pengalaman menjadi caleg.

Cerita di atas sebagian sisi cara caleg menggalang dukungan. Sisi “inside”, yang biasa di luar nalar selalu terjadi di area panggung politik. Ada juga caleg yang berkunjung ke “orang pinter”, atau mungkin lebih tenar dengan sebutan “dukun”. Kebetulan pula ada orang pinter ini memiliki 2 jago yang akan tampil dalam pemilihan caleg. Caleg yang satu memang memiliki modal lebih, sehingga ia memberika DP/uang muka buat orang pinter tersebut. Tentunya sang orang pinter dengan kekuatan batinnya dapat mempengaruhi calon penoblos. Sudah puluhan juta caleg tersebut keluarkan untuk “semedi”/tirakatnya” sang orang pinter. (……..Ya maklum lah…..orang semedi/tirakat juga butuh uang buat beli rokok…). Namun hasil dari pemilu, caleg tersebut mendapat suara sedikit, artinya nasibnya kurang beruntung. Ia kalah suara dengan caleg lain yang memberikan banyak uang pada waktu serangan fajar dan telah merealisir “proposal-proposal”. Bahkan ia juga memberikan serangan yang lebih dikenal “serangan fajar”.

Jago yang satu juga bernasib sama. Meskipun ia tidak “bermoney politik”. Karena ia tahu kompetitornya bermain curang dalam pemilu, sebut saja bermain “money politik, maka ia hendak mengadukan kompetitornya pada yang berwenang. Tapi sayang beberapa calon saksi yang sebenarnya ia mendapatkan “money politik”, tidak mau menjadi saksi bila diajukan pada yang berwenang. Mungkin beban moral juga bagi para penerima money politik yang kemudian akan menjadi saksi kecurangan pemberi money politik. Mungkin ini salah satu “tata kerama money politik”. (………..Masak sudah memberikan uang atau bantuan, malah akan dijerumuskan…..). tau sama tau lah………….mungkin penerapan salah satu asas pemilu yang kurang pas, menjaga agar money politik tidak terkuak; asas “rahasia”

Melihat sekilas cerita-cerita di atas, bagaimana mungkin money politik mau berhenti, sedangkan, para pelaku sudah tau adat dan tata keramanya. Kalau sudah tau praktik money politik, apa efisien membuat peraturan perundangan-undangan yang melarang money politik. Apa ada kebijakan yang kurang tepat, sehingga peraturan larangan money politik tidak kurang efisien bekerjanya. Berbagai pemikiran tentang mahalnya pemilu sudah lama dari berbagai pakar tata negara bahkan dari masyarakat. Pemilu pemilihan caleg, presiden, dan kepala daerah menghabiskan dana/uang yang tidak sedikit. Apakah kiranya masih tepat kebijakan dan pengaturan pemilihan caleg, presiden, dan kepala daerah ? ..mungkin ini yang namanya demokrasi beneran kali ya…apa tidak ada cara lain yang lebih baik ?…belajar dulu ah…

Share on Facebook

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. | TrackBack URI

Leave a comment

XHTML ( You can use these tags): <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> .

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.

*


Sunflowers Theme by Pello Xabier Altadill Izura