Ajik Ajik
Web Blog Undip Web Blog Undip

Calendar

July 2016
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Main

Categories:

Archives:


Links

Meta:


“baiti janati” jangan hanya sekedar dalam keluarga sendiri

July 1, 2016
Filed under: Cerita Bebas — ajiksujoko @ 10:51 am

Terkadang terasa aneh atau mungkin lucu ketika melihat orang yang memikiki postur tinggi dan besar, badan kekar, namun gaya berjalannya feminim atau mungkin suaranya tidak sesuai dengan besar bodynya (jawa=”ora sembodo”). Ada lagi ketika bapak pejabat yang notabennya banyak uang (mungkin karena utang) disegani akan gaya kepemimpinannya, namun ketika di rumah harus bertekuk sama istri yang kebetulan juga menjadi wanita karier (artinya suami-istri sama-2 bekerja). Mungkin golongan ini termasuk STI (suami takut istri). Harus siap menjalankan perintah dan melayani sang istri untuk mengepel rumah, membersihkan kamar mandi dan pekerjaan dapur lainnya dengan perasaan terpaksa, bahkan pekerjaan kantor/urusan negara pun atas perintah sang istri.

Ada yang lain lagi, seorang yang tak berduit banyak (alias miskin duit), tapi istrinya begitu taat/ta’dhim kepada suaminya. Begitu sang istri menjadi pelayan suami. Suami atau istri melaksanakan kewajibannya secara sungguh-sungguh. Tak banyak percek-cokan dalam keluarga, kalaupun ada, mudah diselesaikan dengan damai. Semoga golongan ini termasuk yang katanya “baiti janati”…wah apa ya…? Kira-2 rumahku surgaku gitu lah………..

Yi,,,itulah kehidupan dan ri-el kehidupan yang sering dan banyak dijumpai. Mengapa demikian bisa terjadi ? apakah fenomena atau ketentuan sudah ditakdirkan atas tiap insan yang harus dijalani dengan perasaan mengalah? Mungkin secara teori dalam hubungan masyakarat matrilineal, kedudukan seorang suami berada di bawah istri,…..itu teori kemungkinan saja..lain halnya  dalam teori patrilineal dimana pihak seorang suami yang membawahi dan memerintah istri/keluarga…itu juga teroi kemungkinan saja…Ada lagi teori emansipasi….mungkin itu teori abad IX yang sebenarnya sudah berlaku sejak beberapa abad sebelumnya. Dalam teori emansipasi ini munculnya partisipasi wanita dalam berbagai bidang kehidupan. Ada yang bilang seperti dalam lagu yang syairnya “wanita di jajah pria………..”Mungkin setelah kehadiran teori emansipasi syair lagunya sudah mulai berubah “pria dijajah wanita……”.

Terlepas dari berbagai teori-teori yang di atas, setelah bulan ramadhan adalah bulan syawal. Menurut “orang sepuh” bulan syawal adalah bulan peningkatan. Harapannya amal ibadah di bulan syawal itu lebih baik sebelum bulan ramadhan (yaitu bulan Rajab). Sudah menjadi adat dan ketentuan yang sudah biasa dimaklumi, di awal bulan syawal terdapat hari raya idul fitri..(mungkin kepada mbah/bapak ustadz lah bisa menerangkan mengenai hari raya idul fitri). Tapi yang jelas kebiasaan yang sudah dilakukan oleh masyarakat/ bangsa Indonesia, khususnya orang muslim adalah saling meminta maaf kepada sesama.

Kalo orang awam itu biasanya kalo mau minta maaf kepada sesama menunggu lebaran idul fitri. (ah…itu kan biasanya). Menurut tata lahir meminta maaf karena pernah berbuat salah kepada sesama itu tidak harus menunggu lebaran idul fitri. Idealnya meminta maaf kepada sesama setelah berbuat atau berbicara atau mungkin (jawa “ngrasani”) yang dapat menyebabkan sesama merasa disalahi/dirugikan/didholimi….Kayaknya yang seperti ini berlaku dalam berhubungan antar sesama manusia, khususnya dalam berkeluarga. Berebut meminta maaf kepada sesama itu sangat dan dimungkinkan terasa berat. Biasanya kalo merasa tidak memiliki salah kepada orang lain ya… tidak perlu-lah meminta maaf..malah yang sering terjadi adalah fenomena menyalahkan terlebih dahulu orang lain, karena sangat ringan dan mudah.

Konon, dalam bulan ramadhan itu menjadi latihan mengekang hawa nafsu. Konon juga nafsu itu sangat menyenani hal-hal yang ringan ketimbang yang berat atas sesuatu hal yang dilakukan insan. Tak mengherankan jika berebut meminta maaf itu terasa berat bagi insan, karena dalam diri insan nafsu menggiring kepada hal yang lebih ringan dan mudah. Bila dalam satu bulan penuh ramadhan, khususnya seorang muslim katakan “sukses” dengan level tertentu dalam mengekang hawa nafsunya, namun setelah ramadhan masih ringan melakukan hal yang disenangi nafsunya, ya tentunya hasil jerih payah latihan mengekang hawa nafsu mungkin bisa dikatakan belum optimal…Mungkin paling enak itu nafsunya dipasrahkan saja kepada Tuhan sang pencipta insan dan nafsu.

Seperti sok sufi saja…..membahas nafsu…..

Mungkin bila dikaitkan antara munculnya golongan STI dan yang katanya “baiti janati” ada hubungannya juga dengan yang Seperti sok sufi saja…..membahas nafsu…… Bagaimana tidak ? ketika seorang suami atau istri mengikuti luapan emosionalnya, akal pikirannya yang terbatas, keterbatasan pengetahuan ditumpangi dengan nafsunya, memincu kemudahan saling menyalahkan . Jikalau para istri merasakan lebih ringan memerintah para suaminya, bisa jadi itu tanda-tanda andil nafsu dalam dirinya sangat dominan. Jikalau terasa berat dalam melakukan kewajiban sebagai seorang suami/istri, bisa jadi nafsunya andil nafsunya sedikit.. golongan STI dan yang katanya “baiti janati” di atas hanya sekedar ilustrasi saja dalam hubungan keluarga…

“baiti janati” jangan hanya sekedar dalam keluarga sendiri, namun hendaknya dalam keluarga satu ikatan bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Negara yang kaya jangan dibuat-buat miskin dan menjadi miskin hanya karena mudah saling menyalahkan. Sejarah telah mencatat, beberapa negara berbentuk kerajaan yang pernah exis di Nusantara banyak yang runtuh karena diawali dalam keluarga…contohnya karena perebutan kekuasaan, karena merasa layak dan pantas memiliki kedudukan dan menyalahkan yang tidak layak dan pantas. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara yang besar, jadi harus “sembodo” menjadi negara yang besar.

Pada momen-momen bulan ramadhan dan syawal hendaknya pula dijadikan seperti bulan-bulan lainnya…

Share on Facebook

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. | TrackBack URI

Leave a comment

XHTML ( You can use these tags): <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> .

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.

*


Sunflowers Theme by Pello Xabier Altadill Izura