Ajik Ajik
Web Blog Undip Web Blog Undip

Calendar

January 2018
M T W T F S S
« Dec   Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Main

Categories:

Archives:


Links

Meta:


Kapitalisme, Sosialisme, …. and Me…

January 19, 2018
Filed under: Cerita Bebas — ajiksujoko @ 3:58 pm

Mendengar kata kapitalisme, sosialisme memang identik dengan negara yang memakai faham tersebut…misal Inggris kental dengan kapitalisme nya, Kuba yang akrab dengan sosialisme nya…pengertian maupun definisi nya pun dilihat dari berbagai sudut pandang, seperti dilihat dari sisi ekonomi,  politik , maupun cara sederhananya. Sudut pandang sederhananya ini tidak harus dijadikan referensi. Hanya pengandaian saja, toh bukan pendapat yang akurat.

Seandainya seorang petani memiliki sebidang tanah, maka dipersilakan untuk mengolah dan memanfaatkan tanah tersebut sekuat kemampuannya, kalaupun di dalamnya terdapat batang emas dan berlian dipersilakan menikmatinya sepuasnya…barangakali itu sedarhananya kapitalisme. Lain lagi jika seorang petani memiliki sebidang tanah, jangan harap hasil pertanian maupun kekayaan yang terkandung di dalamnya dapat dinikmati sendiri. Harus diingat bahwa hasil dan kekayaan bukan untuk diri sendiri, namun biarkan orang lain juga menikmati. Tentunya peran sang penguasa yang mencampurinya agar sang petani dan orang lain juga merasakan hasil pertanian dan kekayaannya.

Seandainya Anda hidup di negara yang menganut kapitalis, Anda tidak memiliki “modal”, kemungkinan hidup anda akan “modal madul”, orang lain dimungkinkan tidak mempedulikan. Namun, jika Anda memiliki modal, dimungkinkan Anda akan menikmati kesuksesan berupa materi ataupun kekayaan. Semakin banyak “ladang”, maka akan semakin banyak kesempatan menikmati materi maupun kekayaan. Ladang tidak harus berbentuk tanah di sawah atau di kebun yang dicangkuli oleh petani. Profesi apa pun merupakan ladang, bahkan bisa dibilang “ladang amal”, jika terms and conditions nya terpenuhi. Entah itu guru, dosen, dokter, polisi ataupun lainnya. Bahkan profesi dalam kapitalisme dijadikan sebagai alat produksi. Fenomena keserakahan perebutan ladang mungkin tidak bisa dihindarkan, karena sifat dasar manusia yang memiliki sifat “kurang”. Untuk menutupi kekurangannya saling berebut ladang pun dilakukan. Hal ini kalau di negara penganut kapitalis, sah-sah saja.

Lain halnya jika Anda hidup di negara yang menganut sosialisme, Anda tidak perlu takut kekurangan, jika Anda tidak memiliki modal, asalkan mau bekerja. Tapi jangan senang dahulu, jika Anda memiliki modal banyak, itu bukan hak Anda sepenuhnya. Mungkin joke nya, menggambarkan fenomena sosialisme dengan ungkapan “kere siji kere kabeh”.

Meskipun faham kapitalisme dan sosialisme yang dianut suatu negara, tidak sepenuhnya seratus persen demikian pengandaian di atas. Namun fenomena justru mulai berputar, negara penganut kapitalisme maupun sosialisme mulai bergeser dan akan selalu berubah. Faham yang lain mulai menyebar bahkan berbaur dengan faham yang sudah terpatri. Bahkan saking “pusingnya” para sarjana/penemu teori, mengeluarkan faham yang anti kapitalis atau berupa menemukan teori faham yang baru agar roda kehidupan berjalan.

Lantas dengan Me…? Me is Pancasila

Pancasila bukanlah sama dengan kapitalisme maupun sosialisme. Pancasila yang membedakan Me dengan kapitalisme dengan Sosialisme. Namun harus diwaspadai, bahwa kapitalisme dan sosialisme begitu gencar membayangi dan mencoba masuk ke dalam Pancasila. Mau tidak mau atau pun suka tidak suka, sejarah juga sudah membuktikan Pancasila selalu diserang faham kapitalisme maupun sosialisme, bahkan faham-faham besar lainnya seperti komunisme, liberalisme. Bahasa warningnya : “waspadalah”. Belajar dan belajar, ingat dan ingat, waspada dan waspada, seperti “pepeling” dari R. Ranggawarsita, “eling lan waspada”.

Moderenisasi yang selalu berubah maupun kemajuan teknologi akan selalu berkembang. misal petani abad IX menggunakan cangkul untuk mencangkul tanah dianggap lebih modern dan teknologinya lebih maju ketimbang petani jaman “Pre Historic”, penggunaan traktor akan lebih modern ketimbang hewan ternak (mis; sapi, kerbau) untuk membajak sawah dan seterusnya. Namun cara “dasar memandang hidup” entah itu jaman pre historic atau setiap abad yang selalu berkembang apakah akan berubah pula ?

Contoh negara-negara yang “konon” kehidupannya dianggap lebih maju dan modern selalu dijadikan “branch” atau contoh atau ukurannya. Bahkan mencontoh mereka sampai dalam sendi peri kehidupan yang diatur oleh tatanan peraturan tertulis. Mencontoh hal yang lebih baik itu sah-sah saja, namun dasar memandang hidup harus tetap dipertahankan. Belum tentu di negara yang dianggap lebih maju dan modern, warganya dapat menikmati kehidupan yang “slamet ayem tentrem”. Contoh negara tidak harus yang dianggap modern dan maju. Meskipun mayoritas beragam Islam di Indonesia, tidak boleh “dasar memandang hidup” ini terus mengikuti negara lain yang notabennya melaksanakan syariat Islam. Kalau diamati negara tetangga yang menggunakan syariat Islam, warganya hidup “ngenes”. Bagaimana tidak “ngenes”?..hampir setiap hari diisi dengan pertumpahan darah.

Seharusnya bersyukur dan berbangga diri dengan Pancasila, negara Indonesia bisa hidup selamat, ayem tentrem. Tidak mudah untuk mempersatukan bermacam bentuk ras, agama , suku , kalau tidak dengan Pancasila.

 

 

Share on Facebook

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. | TrackBack URI

Leave a comment

XHTML ( You can use these tags): <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> .

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.

*


Sunflowers Theme by Pello Xabier Altadill Izura