Ajik Ajik
Web Blog Undip Web Blog Undip

Calendar

October 2019
M T W T F S S
« Jul    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Main

Categories:

Archives:


Links

Meta:


GOODS FOR PEOPLE

October 15, 2019
Filed under: Cerita Bebas — ajiksujoko @ 1:52 pm

PENGANTAR II

Tak ada manusia yang membutuhkan barang/jasa. Sejak kebutuhannya dalam kandungan sampai dilahirkan dan pada akhirnya ia mati, manusia sangat membutuhkan barang/jasa. Ibu yang mengandung si jabang bayi, sangat membutuhkan makanan dan minuman yang sehat dan bergizi. Ia membutuhkan pakaian dan tempat istirahat yang cukup. Tidak hanya itu, ibu memerlukan kebutuhan lainnya selain kebutuhan pokoknya. Makanan, bila diuraikan memiliki proses yang panjang. Dari proses produksi sampai dengan jadi makanan siap saji yang akan dimakan oleh si ibu. Demikian juga minuman, pakaian maupun tempat istirahat.

Misalnya saja ibu mendapatkan nasi. Bagaimana proses nasi ini terbentuk. Tentu melalui rentetan panjang yang harus ditempuh. Dari proses produksi, distribusi, sampai cara pengolahannya. Nasi terbuat dari beras. Beras merupakan biji padi. Bagaimana padi dapat berkembang dan dari mana bibitnya, tentunya membutuhkan media tanah (sawah) yang subur maupun pabrik bibit padi. Sawah tempat menanam padi tentu perlu diolah oleh petani. Petani sangat membutuhkan peralatan untuk mengolah sawah. Mulai dari hewan atau pun traktor. Tanaman padi akan tumbuh subur dan bagus apabila mendapatkan suplai air yang lancar. Pupuk juga dibutuhkan agar hasil tanaman padi menjadi lebih menghasilkan pada waktu panen. Petani harus repot-repot berebut air dengan sesama petani lainnya untuk mendapatkan air guna mengaliri sawahnya yang ditanami padi. Kalau lancar, 1 tahun petani bisa panen 3 kali, namun kalau sedang hanya 2 kali panen dalam setahun. Panen tersebut dianggap sukses jika tidak ada serangan penyakit seperti hama ataupun bencana lainnya. Waktu panen tiba, datanglah “tukang tebas” padi untuk membeli padi yang siap panen. Tukang tebas padi sangat lihai memperkirakan besarnya padi yang dihasilkan dari sawah dengan ukuran sekian hektar. Itupun kalau lewat tukang tebas. Namun kalau sang petani dengan beberapa keluarganya memanen sendiri padinya, tentu lain ceritanya. Alhasil padi yang diambil oleh petani ini masuk ke juragan padi sebagai tempat / pengepul padi guna diolah menjadi beras. Dari sang juragan beras ini ada yang langsung dijual ke pasar tradisional/supermarket atau sebagaian dijual ke pelaksana pengatur tata niaga beras.

Sang ibu tahunya mendapatkan beras di supermarket atau toko-toko kelontong. Dan yang ia tahu ia membeli beras dengan harga sekian rupiah. Setalah didapatinya beberapa kilo beras, ia menanak beras agar menjadi nasi. Tentunya kalau ia orang kota, membutuhkan gas elpiji dan kompor dan panci penanak nasi, kalau tidak ya pakai rice cooker. Barulah sang ibu siap menyantap nasi itu. Tentunya dengan lauk pauk lainnya. Begitu proses singkat. Betapa hanya membutuhkan sesuap nasi, proses produksi, distribusi sampai pengolahan membutuhkan beberapa barang lain dan jasa lain. Keahlian sang petani menggarap sawah, pabrik traktor, pabrik bibit, pabrik pupuk, sopir angkutan beras, kendaraan, pabrik kendaraan, pabrik gas, pabrik rice cooker dan lain sebagainya. Setiap bagian rentetan tersebut “syarat” akan peraturan yang mengaturnya agar usaha tiap rentetan berjalan tertib. Peraturan yang dibuat manusia pun terbatas.

Itu hanya salah satu gambaran rentetan jadinya nasi. Bagaimana rentetan kebutuhan hidup manusia lainnya, tentunya sangat komplek. Contoh rentetan proses terjadinya makanan  menggambarkan pemenuhan kebutuhan manusia harus membutuhkan barang dan jasa di mana manusia terbatas dalam usahanya memenuhi kebutuhan. Betapa kemampuan dan peraturan yang dibuat manusia pun terbatas untuk memenuhi satu rentetan tersebut. Ada benarnya orang bijak berkata, manusia tidak  memiliki kuasa untuk memenuhi kebutuhan hanya untuk makannya sendiri. Niscaya ia akan  binasa hanya karena urusan mengurusi pemenuhan kebutuhan untuk makan. Oleh karena itu manusia sangat membutuhkan “goods” dan dalam usaha pemenuhannya sangat terbatas.

 

 

Goods untuk Kebutuhan atau Kesenangan

Seorang ibu rumah tangga pergi berbelanja ke sebuah minimarket. Lantas sang ibu mencari-cari barang yang dicarinya untuk kebutuhan rumah tangganya. Ia kagum, “wah betapa mudahnya mencari barang-barang untuk keperluan rumah tangga. Sudah mudah, murah lagi”. Lain lagi seorang pedagang sayur keliling. Tiap malam ia sudah antre untuk mendapatkan barang dagangannya di pasar tradisional. Menjelang subuh ia berangkat ke kota atau pun di pedesaan untuk menjajakan dagangannya. Jam 6 pagi sang ibu-ibu rumah tangga di suatu pelosok desa sudah menanti kedatangannya. Begitu tiba sang pegadang sayur, barang dagangannya langsung diserbu oleh ibu-ibu rumah tangga. Mereka memilih-milih sayuran ataupun lauk yang dicarinya dengan memperhitungkan uang yang ada dikantongnya. Begitu mudah sang ibu-ibu rumah tangga ini mendapatkan sayur dan bumbu untuk memasak. Begitu pula sangat mudahnya sang ibu rumah tangga mendapatkan beberapa kilogram beras di toko kelontong maupun di supermarket. Begitulah ibu-ibu rumah tangga membeli sesuatu sesuai dengan kebutuhannya. Ah, itu sebagaian saja…(tidak bermaksud menyindir).

Ada seorang anak kecil yang baru melihat TV barunya. Ada tayangan iklan tentang mainan yang menarik sehingga ia harus membeli dan memilikinya. Laporlah sang anak kepada sang Ayahnya. Dengan rasa yang tidak tega, keduanya mencari barang di toko mainan di suatu kota terdekat. Begitu didapatinya maianan  yang seperti di TV, sang anak sangat senang dan sang Ayah pun merasa lega karena dapat menuruti keinginan anaknya. Ternyata mudah untuk mendapatkan maianan seperti di TV guman sang anak di dalam hatinya. Maklumlah sang anak mencari sesuatu yang memberikan kesenangan pada dirinya.

Lain lagi cerita sang pejabat yang memanfaatkan jabatannya. Banyak koleganya yang ia minta secara halus memberikan imbalan kepadanya. Tidak hanya uang, namun harta benda lain. Sebenarnya sang bapak pejabat sudah memiliki harta benda. Dengan maksud untuk mengejar kesenangan pribadinya atau tuntutan lainnya dengan mengumpulkan banyak harta benda. Atau bisa jadi tujuannya mengumpulkan banyak harta benda untuk investasi di hari tuanya.

Sebagai negara pun membutuhkan goods agar roda pemerintahannya berjalan. Setiap tahun pemerintah membelanjakan sekian rupiah untuk membeli berbagai kebutuhan, baik berbentuk membeli barang ataupun jasa. Bahkan demi kebutuhannya terpenuhi, terkadang negara harus berat dan rela untuk berhutang.

Itulah fakta nyata bahwa goods hanya untuk memenuhi dua tujuan yaitu kebutuhan dan atau kesenangan.

 

Seberapa kebutuhan goods for people ?

Manusia hidup barang tentu membutuhkan goods. Entah itu goods sebagai tujuannya atau pun sebagai sarana untuk melengkapi kebutuhan hidupnya. Hal yang aneh mungkin manusia yang tidak tahu kebutuhannya mengenai goods. Bagaiaman tidak ? Goods yang ia maksudkan tidak bisa datang begitu saja dan kapan goods menghampirinya dan dicaripun malah menjauhi.

Misalkan seorang peminta di pinggir jalan yang membutuhkan makan setiap hari. Rumah tidak punya, pemasukan uang tiap hari tidak dapat diharapkan didapatnya, tidur pun di depan toko-toko, terkadang di bawah jembatan, rajin pergi ke toilet SPBU untuk keperluan buang air besar, terkadang dipinggir jalan aktif menyiram tanaman dengan air kencingnya. Itu pun kalau ia sendirian, kalau ia punya anak, mungkin lebih “ribet” lagi. Ia mengandalkan dan mengharapkan pemberian orang lain berupa uang. Tujuannya dengan uang tersebut ia dapat membeli makanan ataupun minuman. Yang ia tahu yang penting kebutuhan perutnya terpenuhi. Dapat makan setiap hari, puaslah dan syukurlah ia.

Lain halnya dengan anak kecil yang duduk di bangku sekolah dasar. Setiap hari ia rajin bangun pagi, kalau tidak kesiangan. Itu pun kalau dibangunkan oleh sang Bunda atau bibi pembantunya. Mandi pagi, sarapan, memakai seragam, sepatu, menyiapkan tas berisikan buku-buku pelajaran dan berangkat ke sekolah tentunya setelah mendapatkan uang saku dari bundanya.  Kadang terasa berat dan malas si anak ini berangkat ke sekolah. Dengan dipaksakan maka ia harus sekolah untuk belajar dan menuntut ilmu. Di sekolah ia bertemu dengan teman-temannya yang juga mencari ilmu. Belajar dan ilmu yang didapat ia harapkan, serta kawan-kawan yang memberikan kesenangan dan keakraban. Apalagi ketika jam istirahat makan bersama kawan-kawannya di kantin sekolah. Mendapat nilai bagus yang ia harapkan agar dapat naik kelas atau pun orang tua senang, bahkan bapak atau ibu guru merasa bangga padanya. Pulang sekolah harus kembali ke rumah. Di rumah pun ia belajar pelajaran yang ia dapat dari sekolah. Kalau sang orang tuanya golongan orang mampu, maka dipanggilah bimbingan belajar untuk memberikan pelajaran tambahan si anak tersebut. Itu kalau si anak kecil yang mendapatkan kesempatan bagus dapat sekolah dan fasilitas dari orang tuanya. Kalau tidak, mungkin lain lagi ceritanya. Itulah kesibukan dan kebutuhan si anak kecil yang duduk di bangku sekolah dasar. Sekolah, belajar, menuntut ilmu adalah tujuan si anak kecil itu. Ia dapatkan tas, sepatu ataupun fasilitas dari sang orang tuanya untuk pelengkap ia sekolah dan menuntut ilmu.

Ada lagi seorang pemuda nan lugu. Setiap harinya ia gunakan waktunya untuk bekerja. Hasil dari kerjanya ia tabungkan. Ia hanya berpikir siang ia gunakan waktunya untuk bekerja dan malam ia gunakan waktunya untuk istirahat, kalau pun sisa waktunya ia gunakan untuk berdo’a kepada sang Khalik. Kebutuhan hidupnya ia gunakan untuk mencukupi dirinya sendiri. Tiba saatnya sang orang tuanya meminta ia untuk menikah. Sang pemuda tersebut lantas bermunajat kepada sang Khalik setiap hari dan berusaha mendekati gadis yang ia kagumi. Setelah dirasa cukup proses pendekatan maka dipinanglah sang gadis tersebut. Setelah ada persetujuan antara kedua orang tua sang pemuda dan sang gadis, maka ditetapkanlah tanggal pernikahan keduanya. Wah, singkat sekali ceritanya. Iya…Al hasil sang pemuda berhasil menikahi sang gadis. Sebagai kepala rumah tangga, sang pemuda ini bekerja untuk mencukupi keperluannya sendiri dan istrinya. Sebelum ia menikah kebutuhan hidupnya hanya untuk menghidupi ia sendiri. Namun setelah ia menikah, kebutuhan hidupnya bertambah dengan kehadiran istrinya. Selang satu tahun kemudian, sang anak lahir. Sejak satu tahun setelah ia menikah, maka kebutuhan hidup yang ia tanggung menjadi tiga orang. Kemudian dan seterusnya.

Dari uraian cerita di atas, sedikit menggambarkan betapa kebutuhan goods adalah tergantung manusia itu sendiri. Semakin banyak yang ia tanggung dan besar bebannya, maka semakin banyak kebutuhannya. Ukuran beban yang ditanggung agar kebutuhannya terpenuhi adalah dari manusia itu sendiri.

 

Pelaku Usaha dan Kebutuhan Goods yang Tidak Ada Matinya

Mungkin pernah membaca tayangan yang mengungkapan, “bisnis pulsa tak ada matinya”, “usaha fotocopy tidak ada matinya”, “bisnis kos-kosan tidak ada matinya”, “sampai peluang usaha yang gak ada matinya”.  Begitu pula kebutuhan goods tidak ada matinya. Selama manusia masih eksis, maka ia akan selalu membutuhkan goods.

Dalam bisnis selama ia masih eksis, ia tidak akan mati. Eksis atau keberadaan bisnis yang masih bertahan tersebut tentunya tidak mudah. Para pelaku bisnis harus cerdas dalam mengambil peluang usaha, mengembangkan usahanya dan siap bersaing dengan kompetitor lainnya.

Pelaku usaha adalah pelaku yang menjalankan usaha. Pelaku usaha ini dapat berbentuk badan usaha atau yang tidak berbentuk badan usaha. Pelaku usaha yang berbentuk badan usaha dapat berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum. Pelaku usaha dengan jitunya mempengaruhi para pengguna produknya baik itu berupa barang atau pun jasa. Dengan modal besar mereka bertarung mendapatkan sebanyak mungkin pengguna produknya melalui iklan. Dari iklan yang ditayangkan di radio, lewat SMS, suara kabar, televisi, maupun  iklan dengan model nepotisme. Maksudnya melobi kerabat-kerabatnya untuk menjualkan produknya. Memang begitu luar biasa para pelaku usaha cara menjajakan produknya.

Hasil produk dari sang pelaku usaha ini salah satunya adalah beraneka goods yang dijual di pasar. Begitu goods ini ada di pasar, sang pembeli yaitu pengguna goods akan bebas pula memilah-milah sesuai kebutuhan dan keinginannya. Begitu mudah pengguna mencari goods, sekalipun goods ini berada di luar negeri. Pasar tidak harus mempertemukan secara tatap muka antara pelaku usaha dengan pembeli. Dengan media internet, akses ke pasar pencarian goods akan lebih mudah dan transaksinya pembayaran lebih cepat. Misal, hanya setor ke nomor rekening sekian, barang akan dikirim lewat kurir/ekspedisi tertentu. Oleh karena itu tidak hayal kalau goods asing yang menawarkan dengan berbagai kelebihannya kelihatan mengungguli goods lokal. Mengapa demikian ? tentunya sang pengguna goods akan mencari goods yang unggul.

Begitulah, tidak ada matinya pelaku usaha menawarkan goodsnya, maka tidak ada mati pula kebutuhan goods bagi manusia. Lain halnya bila pelaku usaha tidak menawarkan goodsnya, maka sang pengguna akan bingung pula mencari goods yang menjadi kebutuhannya.

 

Bagaimana People Melihat Goods

Pernah melihat film, entah apa judulnya lupa. Yang jelas film tersebut mengisahkan seorang ayah dari golongan pedalaman di daerah Afrika. Sebut saja sang primitive. Suatu ketika sang primitive ini pergi melewati area semak belukar yang luas. Di keajauhan nampak sebuat pesawat terbang sedang terbang melewati batas daerahnya. Dilihatnya sang pilot membuang sebuah botol minuman dari pesawat. Namanya film, botol tersebut tidak pecah ketika jatuh di tanah. Lantas botol ini ditemukan oleh sang primitif. Dilihatnya botol tersebut dengan keheran-keheranan. Dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh bahasa manusia lainnya, ia berguman, mungkin botol ini jatuh dari langit karena Tuhan sedang marah. Lantas sang primitif membuang botol tersebut. Selang kemudian botol tersebut ditemukan oleh anak-anak sang primitive untuk maianan. Melihat kejadian tersebut sang primitif  kemudian merebut botol tersebut, karena yakin dengan memegang botol tersebut ia akan terkena marah dari Tuhan. Dan dikisahkan dalam film tersebut memang betul nasib sang primitif dan anak-anaknya sedang dirundung bahaya. Namun pada akhirnya, kisah film tersebut keluarga sang primitif dalam keadaan aman.

Sedikit kisah dari film yang tidak memiliki makna mengenai goods. Namun, setidaknya pemahaman mengenai goods orang primitif begitu syara dengan keyakinan. Apabila melihat goods itu yakin akan membawa bahaya, maka siapa saja yang membawa goods tersebut akan terbawa bahaya.

Ketika seorang bayi baru berumur 8 bulan dihadapkan sebuah hand phone, maka ia kira hand phone tersebut adalah mainan. Tidak hanya mainan, bahkan dianggap makanan, terkadang bibirnya didekatkan dengan hand phone tersebut dan mencoba dimasukkan di mulutnya. Tidak hanya hand phone, bahkan bila diberi lembaran uang kertas, ia coba untuk memakannya. Bayi tersebut memang belum bisa membedakan benda yang berfungsi semestinya. Harap maklum bayi belum memili nalar seperti layaknya orang dewasa.

Hal lain ketika melihat orang gila di jalan. Ketika ia diberi uang oleh sesorang, ia tidak serta memakan uang tersebut. Namun ketika ia diberi sebungkus nasi oleh penjual di restoran padang, ia makan nasi tersebut. Anehnya koran dan daun pisang sebagai bungkus nasi tersebut tidak ia makan sekalian. Sepertinya ia mengenali koran dan daun pisang tersebut bukan untuk dikonsumsi, namun isinya yang bisa ia makan.

Ada pedagang mie ayam. Ia menjual dagangannya di depan pasar tradisional dengan berumahkan terpal. Banyak orang yang beli untuk menikmati mie ayam pedagang tersebut. Sangat laris, bisa disebut demikian. Karena baru buka jam 2 siang, mia ayam pedagang tersebut sudah habis sebelum maghrib. Keuntungan bersih yang didapatnya mencapai 300 ribu per hari. Karena sudah banyak penjaja yang makan mie ayamnya, pedagang tersebut sudah mulai berpikir mengambil keuntungan yang lebih cepat. Ia melihat peluang bisnis yang sangat menggiurkan dengan berjualan  mie ayam. Daging ayam yang semula ia gunakan kemudian ia campur dengan daging tikus. Memang rasanya tidak ada perbedaan sama sekali. Lambat laut penjaja mie ayam ada yang mengetahui bahwa ada rambut-rambut di daging yang ia makan. Lama-lama ia curiga dengan daging tersebut. Baru beberapa minggu kemudian terbuki, bahwa sang pedagang tersebut dengan sengaja mencampur daging ayam dengan daging tikus. Begitulah contoh bentuk penipuan barang dagangan. Kasus lain adalah bakso yang dicampuri borak yang sebenarnya tidak layak untuk dikonsumsi manusia. Masih banyak lagi penggunaan barang yang tidak sesuai dengan fungsi semestinya.

Adalah teladan yang bisa diambil dalam kisah Rasul Allah. Rasul memiliki sifat amanah berarti bisa dipercaya baik lahir atau batin. Setiap rasul adalah dapat dipercaya dalam setiap ucapan dan perbuatannya. Para rasul akan terjaga secara lahir atau batin dari melakukan perbuatan yang dilarang dalam agama, begitu pula hal yang melanggar etika. Dalam sekecil apa pun ucapan dan perbuatan rasul dapat dipercaya.[1] Selaku umat manusia yang beragama, mestinya meniru sifat rasul. Katakanlah kalau orang memakai sandal, kaos kaki dan sepatu ya semestinya dan sepatutnya dipakai di kaki. Orang memakai sarung tangan dipakai di tangan. Karena menempatkan pada tempatnya adalah salah satu bukti mempunyai etika. Demikian, sudah semestinya dan sepatutnya manusia melihat goods adalah menggunakan goods sesuai fungsi dan tempatnya dalam hal sekecil apapun, karena dalam penggunaannya ada etika.

 

Dari Goods Kembali ke Goods

Ketika melihat seorang pemulung melintas di depan rumah, ia selalu membawa sebuah bagor besar dan sebilah besi yang ujungnya dibuat runcing dan melengkung. Fungsinya untuk mengeruk sampah, mengambil sampah di jalan atau pun di tempat sampah dan bahkan di tempat pembuangan akhir sampah (TPA). Kronologi barang menjadi sampah pun sangat komplek. Yang jelas barang tersebut tidak dimanfaatkan pemakai karena rusak atau sudah layak untuk dibuang. Pada akhirnya bisa sampai di pinggir jalan, di sungai, tempat sampah, bahkan masih bisa sampai di TPA. Sebenarnya barang-barang yang sudah dianggap menjadi sampah tersebut sebagian masih bisa digunakan kembali (reuse). Dengan memproses dan memoles kebali barang tersebut, dapat dimanfaatkan oleh manusia.

Misalnya mobil. Mobil terdiri dari banyak komponen. Ada kaca, ada body, ada roda, ada mesin ada jok dan lain sebagainya, sehingga terbentuk nama mobil. Sebelum menjadi sebuah mobil, barang-barang tersebut merupakan bahan mentah/bahan dasar baik yang diproses atau dicetak. Sehingga terbentuklah roda dengan bahan dasar karet, jok dengan bahan kulit dan seterusnya. Lambat laut mobil ini mengalami kemerosotan fungsi dan nilainya. Pada akhirnya mobil ini ndongkrok dan rusak. Sebagian pembentuk mobil sudah ada di pengepul barang rongsokan, sebagain ada di “pasar kluwakan (= pasar jual beli onderdil kendaraan)” dan yang lainnya entah kemana. Begitu contoh mobil hanya menggambarkan bahwa barang pembentuk mobil ini akan terurai / terpisah lagi dengan kondisi barang sama atau mungkin sudah beralih fungsi. Sebagian barang-barang pembentuk mobil ini sulit terurai di muka bumi. Bisa dikatakan sampah anorganik.

Lain halnya dengan nasi yang proses kejadiannya sangat panjang. Setelah dimakan manusia berubah bentuk yang biasa dikeluarkan tiap pagi atau sore. Air besar namanya. Kalau nasi tidak dimakan seluruhnya mungkin di buang di tempat sampah dan menjadi makanan semut atau hewan lainnya. Itu adalah bentuk contoh sampah organik. Mengapa ? karena masih dapat diurai. Ada di suatu pedesaan yang membuat WC komunal. Dari air besar yang tertampung dimanfaatkan sebagai sumber energi.

Begitu pula seseorang membutuhkan modal berupa uang. Maka ia membutuhkan jasa di bidang perbankan. Kemudian ia meminjam uang tersebut yang lebih familiar disebut uang hutangan. Hasil hutangnya ia gunakan untuk menjalankan modal usaha. Katakanlah mendirikan warung kelontongan. Ia gunakan uang tersebut untuk membayar jasa pelayan yang menunggu warungnya dan membeli barang dagangan di agen/distributor. Uang yang semula ia dapat dari bank kemudian ia berikan ke pelayan dan agen/distributor. Semula uang hutangan kemudian berubah uang operasional atau sebutan lainnya. Dalam siklus akuntansi berpindahnya uang itu akan berubah namanya.

Begitulah suatu goods yang sebelumnya belum ada kemudian ada atau dibuat atau diciptakan akan kembali lagi menjadi goods yang sebutannya sudah berbeda, baik fisik, fungsi maupun pemakaiannya.

[1] http://hasanassaggaf.wordpress.com/2010/06/02/4-sifat-wajibmustahil-bagi-rasul/

Share on Facebook

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. | TrackBack URI

Leave a comment

XHTML ( You can use these tags): <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> .

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.

*


Sunflowers Theme by Pello Xabier Altadill Izura