Ajik Ajik
Web Blog Undip Web Blog Undip

Calendar

October 2019
M T W T F S S
« Jul    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Main

Categories:

Archives:


Links

Meta:


GOODS FOR PEOPLE (PENGANTAR III)

October 15, 2019
Filed under: Cerita Bebas — ajiksujoko @ 2:25 pm

Kebutuhan Manusia dan Eskploitasi Sumber Daya Manusia

Eksploitasi sumber daya alam tidak hanya terjadi pada ikan yang terkenal dengan kasus illegal fishing nya. Kasus yang menimpa kayu dengan berita illegal logging nya yang menyebabkan banyak banjir. Bahkan eksploitasi sumber daya alam telah merambah pada sumber daya manusia yang terkenal dengan kasus human traficking nya. Kebutuhan manusia tidak hanya makan, namun juga memuaskan hasrat biologisnya. Baik di gang tikus sampai di kamar sekelas hotel, penjaja pemuas hasrat biologis mencari wanita/pria berbagai bentuk/type/warna. Human traficking tidak hanya terjadi di negara berkembang, namun di belahan dunia yang juga negaranya mengaku sudah modern pun terjadi demikian.

Kalau berhenti di area perempatan atau area terbuka di wilayah perkotaan, banyak dijumpai anak yang memainkan peran untuk meminta kepada pengendara kendaraan. Anak-anak yang bernasib demikian banyak yang dikelola/dimanfaatkan oleh orang yang mencari uang. Jadi anak kecil dibuat mesin pencari uang. Kasus illegal-illegal  yang lain juga dialamai oleh anak-anak kecil bahkan orang dewasa atau pun sudah tua untuk mengedarkan obat terlarang atau uang palsu. Kemampuan secara illegal tadi dimanfaatkan atau dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia lainnya.

Kemampuan manusia untuk memenuhi kebutuhan manusia lainnya yang melampaui aturan atau tatanan baik hukum atau adat merupakan eksploitasi sumber daya manusia itu sendiri. Manusia itu terdiri dari bagian jasmani dan rohani. Ketika ia bekerja melampaui kekuatan jasmaninya, ia akan mudah lelah bahkan sakit. Ketika akal pikirannya berpikir melampaui kemampuan berpikirnya, ia akan mudah stress bahkan kalau akut akan menjadi gila. Kemampuan jasmani dan rohani manusia sudah diatur dalam aturan atau tatanan baik tatanan hukum atau adat. Tatatan/aturan hukum sendiri terdiri dari bebagai bidang hukum yang lengkap. Entah itu dari aturan hukum agama atau hukum yang dibuat oleh kesepakatan bersama dalam bingkai bermasyakarat atau bernegara. Tatanan/aturan tersebut sebagai pedoman pada umumnya kemampuan manusia menggerakkan jasmani atau rohaninya.

Bisa dilihat ketika aturan anak tidak diperbolehkan bekerja di bawah umur, ketika anak tidak diperbolehkan nikah dibawah umur, ketika seseorang tidak boleh mengedarkan obat terlarang dan ketika yang terjadi sebaliknya. Aturan hukum atau adat mereka langgar, tentu begitu mencuatnya permasalahan yang bernuansa eksploitasi.  Ketika ada anak kecil meminta di pinggir jalan/di perempatan, ketika ada wanita/gadis pelaku hiburan malam atau yang pria (PTS), ketika ada berita pengedar obat terlarang di lingkungan anda sekitar, apakah begitu nyaman wilayah atau daerah tersebut ? Tentu pendapat orang pada umumnya tidak, bukan. Bagaimana lingkungan suatu daerah bila mengalami hal tersebut. Lingkungan yang seperti demikian yang tidak dibutuhkan, bukan ? Tentu kebutuhan manusia tidak sekedar lingkungan yang aman dari kerusakan eksploitasi sumber daya alam, namun lingkungan yang aman dan nyaman dari kerusakan sumber daya manusia.

 

Negara dan Kebutuhan Barang/Jasa

Tidak ada satu pun negara yang tidak menjalankan roda pemerintahannya. Baik negara yang berbentuk kerajaan maupun kesatuan memiliki sistem pemerintahan agar kehidupan bernegara dan bermasyarakat dapat berjalan dan eksis. Tidak ada satu pun negara yang dapat bertahan hidup tanpa kerjasama atau bantuan tetangganya. Masing-masing negara saling membutuhkan, layaknya tiap manusia yang saling membutuhkan. Kebutuhan negara antara lain akan rasa aman, mempertahankan sumber kekayaannya, hidup sejahtera, tertib, rakyatnya layak mendapatkan hak sebagai warga negara, dapat melaksanakan kewajiban melayanai kepentingan umum, partisipasi dalam ketertiban dunia dan kebutuhan lainnya yang komplek.

Kompleknya urusan negara membutuhan barang/jasa yang dapat memenuhi urusannya. Pemenuhan kebutuhan negara selalu dibarengi dengan isu lingkungan. Isu lingkungan salah satu isu yang cukup sensitif. Hal ini disebabkan semakin parahnya tingkat rusak dan degradasi lingkungan. Sebagai misal, ketika lapisan ozon mulai rusak dengan ditengarai isu global warming nya, maka berbagai gas freon untuk pendingin ruang dalam gedung-gedung baik gedung pemerintah maupun rumah dicarikan alternatif pengganti freon. Ketika berkurangnya pohon akibat diambil untuk bahan kertas, maka dicarikan solusi alternatif berupa paperless, dimana penyimpan bentuk digital yang lebih banyak dominan dipakai. Ketika berkurangnya cadangan minyak bumi sebagai bahan bakar, maka dicoba mencari solusi alternatif penggantinya. Banyak alternatif pengganti dari minyak bumi dengan bahan yang dapat diperbaharui.  Konsep go green, back to nature juga menghias berbagai kebijakan negara dalam usaha pemenuhan kebutuhan negara, tidak hanya tingkat negara saja, namun sudah tingkat internasional.

Bukan politik namanya, kalau bukan menjadi topik hangat setiap isu tiap harinya. Isu politik pun sangat mewarnai dalam pemenuhan kebutuhannya. Tidak hanya tingkat negara namun juga tingkat internasional. Bahkan pada realitanya suatu isu politik sangat berdampak pada pemenuhan kebutuhan suatu negara. Banyak kebijakan negara kaya maupun besar memberikan dampak pada negara kecil atau berkembang. Tidak sekedar kebijakan, namun perubahan atau pergolakan politik di negara kaya maupun besar mampu memberikan efek pada negara kecil atau berkembang. Sebagai misal negara yang terbiasa menyandang status adikuasa selalu dominan dalam percaturan kancah politik internasional. Tidak jauh-jauhlah gambaran tersebut. Misal di suatu kelompok masyarakat kecil, yang biasa disebut dalam Rukun Tangga (RT). Ketika seseorang di antara mereka memiliki kelebihan secara finansial lebih kaya, secara jabatan pekerjaan lebih tinggi, khairmatik, tentu memiliki bargaining position atau pun bargaining power yang tinggi pula. Ia terbiasa memberikan santunan atau bantuan kepada tetangga yang tidak mampu. Sebagian warga yang tidak mampu menggntungkan kebutuhan kepadanya. Mungkin bisa dibayangkan, seandainya ia sedang mengalami defisit keuangan, tentu ia tidak mampu memberikan bantuan kepada tetangganya. Ketika dalam forum musyawarah warga pun ia cenderung mendominasi baik usulan maupun programnya.

Pemilik posisi tawar tinggi tidak hanya negara besar maupun kaya, namun dalam perkembangannya merambah pada lembaga-lembaga internasional, khususnya lembaga pemberi pinjaman hutangan. Mungkin yang namanya juga politik, dibalik layar lembaga tersebut juga negara kaya maupun besar juga. Mungkin bisa dilihat dalam perkembangnnya, ketika lembaga keuangan internasional memberikan pinjaman hutang pada negara berkembang. Serapan tinggi, namun tidak tepat sasaran maksimal dari kebutuhan negaranya. Mengapa ini bisa terjadi ? mungkin isu korupsi cukup tepat untuk menggambarkan suasana tersebut. Dana pinjaman memang tepat sasaran untuk membiayai kebutuhan negara, namun banyak “lost” dimana ada andil koruptor. Konsep good government pun termasuk di dalamnya pemberantasan korupsi pun muncul. Mungkin lain lagi ketika ada negara yang baru terbentuk seperti Timor Leste, ketika awal menjadi negara sendiri sulit menyerap bantuan keuangan dari negara tetangga.  Untuk apa dana bantuan yang besar digunakan, mereka masih bingung.  Joke nya, mereka harus belajar dulu pada Indonesia agar dana dapat terserap.

Semua negara pasti melakukan apa yang biasa disebut procurement atau pengadaan guna memenuhi kebutuhannya. Negara dalam kontek berkeluarga menghabiskan beberapa uangnya untuk memenuhi kebutuhannya. Pemenuhan kebutuhan yang dilakukan melalui proses pengadaan membutuhkan dana. Tidak sekedar dari dana yang berasal dari negara sendiri, bahkan ada yang rela harus berhutang pada negara lain/lembaga keuangan internasional. Mungkin hutang negara kecil akan kecil pula sesuai kemampuannya dalam mengembalikan hutangnya. Bisa jadi negara yang besar memiliki hutang yang besar pula, karena semakin komplek dan besar negara akan semakin besar pula kebutuhannya. Secara garis besar kebutuhan negara dalam pengadaan terdiri dari barang dan jasa. Seiring dengan konsep good government pun isu korupsi yang merupakan satu paket dengan kolusi dan nepotisme juga mewarnai dalam proses pengadan di berbagai negara. Bahkan karena saking hebatnya modus yang dilakukan oleh orang yang notabennya sebagai pejabat atau konglomerasi, hingga dikenal dengan white collar crime. Mungkin bila tidak ada “no crime” akan muncul yang berbau “clean”, termasuk clean goverment.

Dari isu lingkungan, isu politik, pememuhan kebutuhan negara merambah pula pada isu hukum dan penegakkanya. Kesemuanya itu karena kebutuhan negara berupa barang/jasa memiliki nilai, baik secara ekonomi maupun tidak bisa dihitung. Bagi negara penganut trias politika, beberapa pejabat di lingkungan baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif pun berurusan dengan lemabaga penegak hukum. Mungkin akan beda lagi dengan negara yang bebentuk kerajaan. Konsep trias politika mungkin tidak berlaku. Malah dari raja sampai pembantunya (menteri) merupakan unsur sedarah. Anehnya belum mendengar terjadi kasus terjadi nepotisme dalam rangka pengadaan barang/jasa. Mungkin belum ada penelitian tingginya tingkat korupsi yang dilakukan di negara berbentuk kerajaan dengan negara berbentuk kesatuan, namun praktik korupsi tidak hanya terjadi di negara berkembang.

Adanya penyimpangan seperti praktik korupsi membuktikan bahwa negara di manapun selalu memiliki kebutuhan. Tidak sekedar praktik korupsi, telah rusaknya lingkungan juga bukti bahwa negara memiliki kebutuhan. Entah itu merusak lingkungan negara tetangga atau negeri sendiri. Mengeksploitasi lingkungan yang memiliki kekayaan negara tetangga dengan cara apa pun termasuk dengan model politik agar pemenuhan kebutuhan negerinya terpenuhi.

Dalam memenuhi kebutuhan barang/jasa yang biasa dilakukan dengan procurement, tentu membutuhkan campur tangan atau andil dari para penyedia. Penyedia ini juga memiliki kelas. Mulai kelas lokal, regional, nasional sampai dengan internasional. Penyedia kelas lokal memiliki andil yang besar dalam pemenuhan kebutuhan negara. Semakin tinggi kelasnya samakin tinggi juga tuntutan kompetensi dan pendanaannya. Tiap negara pun saling berkompetisi membuat penyedia yaang berlabel badan usaha pemerintah. Tujuannya selain menjadi sumber pendapatan di negeri sendiri, dapat menyediakan barang/jasa untuk negeri sendiri, bisa berpeluang memperoleh proyek di negara tetangga agar menambah surplus keuntungan. Terkadang pemenuhan barang/jasa yang dipenuhi dari negeri sendiri tidak mencukupi, sehingga perlu mengimpor kebutuhannya dari negara tetangga. Tidak hanya kebutuhan berteknologi tinggi yang diimpor, namun juga kebutuhan pokok suatu negara. Akan terasa membebankan bagi negara, apabila kebutuhan pokok harus mengimpor dari negara tetangga. Tentu ia akan merasa tergantung dari negara tetangga pengkespor.

Share on Facebook

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. | TrackBack URI

Leave a comment

XHTML ( You can use these tags): <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> .

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.

*


Sunflowers Theme by Pello Xabier Altadill Izura