Ajik Ajik
Web Blog Undip Web Blog Undip

Calendar

October 2019
M T W T F S S
« Jul    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Main

Categories:

Archives:


Links

Meta:


Goods for People (PENGANTAR III BAGIAN I)

October 15, 2019
Filed under: Cerita Bebas — ajiksujoko @ 1:55 pm

Sudah menjadi kebutuhan manusia sejak lahir pemenuhan akan dirinya. Lahir sebagai manusia merupakan karunia dari Allah SWT. Diberikan pemenuhan akan kebutuhannya juga merupakan karunia. Karunia rejeki, hidup, bertahan hidup, kesehatan, materi, ilmu, pemahaman dan lain sebagainya. Karunia merupakan pemberian-Nya tanpa usaha manusia dan memang betul-betul pemberian-Nya. Ada anggapan orang berdoa terus dikabulkan, lantas dengan do’a tersebut apa yang diinginkan/kebutuhannya terpenuhi. Ada lagi ia usaha dengan bekerja keras, lantas mendapatkan hasil yang diinginkan, kemudian dari hasil jerih payahnya itulah ia yakin keberhasilan ia dapat. Ini bukan prinsip pemikiran pemberian karunia-Nya. Do’a maupun usaha yang dilakukan manusia toh tidak ada hubungannya pada kemurahan karunia yang sudah diberikan. Hanya saja sebagai manusia wajib untuk melakukan sebab-sebab seperti do’a dan usaha, termasuk dalam rangka memenuhi kebutuhannya yang bersumber dari barang/jasa.

Pemenuhan kebutuhan manusia dalam pembahasan ini adalah pemenuhan kebutuhan yang bersumber dari barang/jasa. Tidak dipungkiri dan harus diakui barang/jasa yang dikonsumsi manusia memberikan kontribusi pada kerusakan lingkungan. Tidak sekedar barang/jasa yang sudah dikonsumsi, proses pembentukan barang/jasa pun banyak yang menimbulkan permasalahan lingkungan. Logam seperti emas, perak, tembaga maupun logam yang lainnya tidak mudah mewujudkannya menjadi barang perhiasan yang biasa dipakai sebagai barang perhiasan atau tabungan. Emas sebagai logam mulia tidak hanya sekedar menjadi barang perhiasan yang menempel dalam anggota tubuh manusia, khususnya kaum hawa. Emas juga banyak dimanfaatkan sebagai alat perdagangan, jaminan hutang sebagai bentuk pemenuhan kebutuhannya.

Proses menambang sampai dengan membuat barang jadi barang hiasan dengan bahan logam membutuhkan peralatan yang tidak sederhana. Bahan dasar logam ditambang sedemikian hebatnya, bahkan meskipun sebesar gunungpun kalau memungkinkan akan dikeruk juga. Tidak jauh-jauh di daerah / wilayah timur Indonesia, warga sekitar harus ikut-ikutan “free repot” alias bebas untu bersusah payah mendaur ulang dalam rangka mengais rejeki bahan dasar emas dijadikan perhiasan. Wilayah tambang tersebut begitu “parahnya” tercemar. Bukannya membombastiskan kondisi tersebut, hanya saja sudah imbangkankah rusaknya wilayah yang tercemar dengan pemenuhan kebutuhan manusia ? Kerusakan yang terjadi tidak hanya wilayah penambangan namun juga sampai pada daerah hilir/muara. Itu baru proses penambangannya.

Lain halnya dengan nasi yang biasa disantap manusia, begitu ulet para bapak petani dengan “simply tool”nya alias alat bajak dan paculnya mendaur ulang tanah sawah agar menjadi gembur kembali supaya dapat disemai dan ditanami bibit padi. Meskipun dikata tidak memberikan kontribusi parah pada kerusakan lingkungan, namun menanam padi tidak hanya sekedar membajak sawah. Bisa dilihat bagaimana bibitnya yang “konon” dahulu para petani yang sudah “jadul”  alias jaman dulu biasa membuat bibit padi tersendiri, sekarang harus mengandalkan bibit notaben dan lebelnya produk bibit padi unggulan.

Dahulu musuh tanaman padi serangga/hewan seperti tikus atau burung. Orang kuno sekelas orang tua atau embah saya mengusir hewan biasa memakai “syarat”. Dalam isitilah kebudayaan jawa “syarat” yang dimaksud meminta kepada Allah SWT agar  pemimpin / raja hewan yang menggiring hewan tersebut tidak mengganggu tanaman. Media yang dipakai biasanya ada “laku slametan” atau berdoa bersama sebelum memulai proses menanam padi. Seperti “local wisdom” saja. Nyata dan realitanya jaman embah dan bapak saya selama menjadi petani ya sukses betul dalam menanam padi sampai panen tanpa ada gangguan / serangan hama maupun penyakit, tidak seperti yang berkembang seperti era kekinian. Secara perbandingan jaman, era embah saya dan bapak saya itu eranya Pak Suharto yang menjabat sebagai Presiden. Memang dikenal era presiden tersebut Indonesia murah pangan, beras diimpor.  Itu beritanya. Mungkin “local wisdom” cara bertani pada era Presiden Suharto sangat kental.

Namun, sekarang berbagai varietas penyakit yang harus dilawan dengan obat tanaman “semprot” berbahan kimia dimana merusak kualitas tanah. Itu baru proses penanamannya.

 

Siklus menjadi barang/jasa yang digunakan untuk pemenuhan kebutuhan manusia teramat panjang. Antar siklus sudah menjadai mata rantai. Setiap siklus memberikan andil pada kerusakan lingkungan. Tidak hanya sekedar barang/jasa yang menjadi kebutuhan pokok, namun kebutuhan lainnya sama-sama dapat memberikan kontribusi pada kerusakan lingkungan, hanya saja kadarnya yang berbeda.

 

 

Pemenuhan Kebutuhan Manusia Yang Bersumber Dari Barang/Jasa Telah Merusak Lingkungan.

Sudah menjadi kodratnya manusia memiliki keharusan memenuhi kebutuhannya. Bahkan dalam perkembangannya keinginan manusia pun berkembang menjadi suatu kebutuhan. Secara lahiriah kebutuhan manusia bisa dicukupi atau bersumber dari barang/jasa. Dari hal yang mutlak, pokok sampai tersier. Bahkan untuk mewujudkan kebutuhan rohani pun manusia perlu barang/jasa.

Makan minum sebagai kebutuhan mutlak dan pokok, selain sandang maupun papan. Orang yang beragama pun ketika melakukan ibadah juga membutuhkan yang namanya barang/jasa. Contohnya orang beragam Islam melakukan ibadah solat, ia akan membutuhkan pakaian yang dapat menutup auratnya. Ketika ia akan melakukan ibadah haji/umroh, akan membutuhan jasa sebuah biro atau jasa dari pelayanan negara agar dapat melakukan ibadah tersebut. Orang akan bekerja memerlukan kendaraan agar cepat sampai pada tempat bekerja, baik menaiki kendaraan sendiri atau pun naik kendaraan umum.

Ketika seorang membeli nasi bungkus di warung tegal alias Warteg atau warung masakan Padang biasanya malu nasi bungkusnya kelihatan dan dilihat orang lain. Sebagai penjual yang budiman, mereka juga mengerti kebiasaan pembelinya yang malu mendadak jika nasi bungkusnya dilihat orang lain. Maka tanpa sungkan pun sang penjual memberikan plastik kantong baik yang berwarna gelap mapun modif agar tampilan nasi bungkus pembelinya tidak kelihatan. Menghasilkan nasi bungkus di warung saja kalau dibayangkan, sangat beragam membutuhkan banyak item dari produknya pabrik/produsen. Mulai dari nasi, sayurnya, plastiknya, peralatan dapur mapun memasak di warung sampai bangunannya sehingga bisa berdiri warungnya. Begitu banyak pabrik/produsen yang ikut andil di dalamnya. Misal, membuat warung saja membutuhkan semen, pasir, besi lampu penerangan maupuan peralatan bangunan lainnya. Membuat semen atau besi pun dibutuhkan pabriknya. Begitu  juga membuat lampu penerangan maupun peralatan bangunan lainnya. Semakin banyak warung didirikian akan semakin banyak pula semen atau besi atau peralatan bangunan lainnya yang dibutuhkan. Demikian juga semakin banyak orang yang berminat membeli makanan di warung, akan semakin bertambah pula warung yang tersedia. Bukannya mengajari memasak di rumah sendiri. Tapi toh, realita kehidupan semakin tinggi tingkat kesibukan seseorang, maka pemenuhan kebutuhan pokok seperti makan atau minum secara instan sangat dominan. Adanya kebutuhan yang serba instan ini menjadikan peluang bagi pabrik/produsen membuat produk yang dapat sesegera mungkin bisa digunakan.

Berapa ribu pabrik/produsen yang menghasilkan barang/jasa agar kebutuhan manusia dapat terpenuhi ? Berapa ribu jenis barang/jasa yang sudah dihasilkan dari pabrik/produsen ? Berapa ribu barang/jasa yang sudah dipakai oleh manusia? Berapa ribu barang/jasa yang sudah usang dan tak terpakai lagi ? Mungkin jawabannya sederhana. Sudah ribuan, bahkan lebih.

Sudah berapa berita rusaknya lingkungan karena berdirinya pabrik ? Sudah berapa berita rusaknya lingkungan karena pemakaian poduk yang dihasilkan pabrik/produsen ?  mungkin jawabannya sering muncul di berita di televisi.

Pabrik/produsen memang dibutuhkan agar barang/jasa yang dibutuhkan manusia dapat terpenuhi. Tidak ada produsen atau pabrik yang membuat produk berupa barang/jasa, manusia akan mengalami kesulitan dalam pemenuhan kebutuhannya. Toh, kebutuhan manusia tidak turun dari langit begitu saja, dan perlu prosesnya. Pabrik/produsen hanya sebagai contoh saja sebagai bagian dari proses pemenuhan kebutuhan manusia. Karena sebagai bagian dari proses maka tidak serta merta begitu mudahnya disalahkan apabila ada hal yang lain mengalami dirugikan.

Adanya reklamasi pantai yang akan digunakan sebagai bandara/airport atau pelabuhan sebagai tempat tujuan transportasi tentu akan memberikan kontribusi perubahan lingkungan pantai sekitarnya. Mungkin lingkungan daerah penangkapan ikan akan rusak, atau wilayah pesisirnya akan mengalami degradasi/penurunan fungsinya. Meskipun pemenuhan kebutuhan manusia itu hal yang tidak dapat dihindari baik berupa kebutuhan barang/jasa, disadari bahwa dalam prosesnya telah merusak lingkungan.

Adanya kesadaran tersebut, kiranya sebagai bahan pertimbangan agar bijak memenuhi kebutuhannya agar andil dalam merusak lingkungan tidak besar. Diawali dari diri sendiri tentunya. Misalnya seorang yang berduit banyak yang memiliki banyak anak, biasanya bagaimana mengusahakan agar tiap anaknya memiliki mobil sendiri. Sebuah ilustrasi yang menggambarkan semakin banyak anak atau tanggungannya, maka akan semakin banyak pula keinginan memenuhi kebutuhannya yang pada akhirnya memberikan kontribusi besar agar pabrik mobil memproduk kendaraan yang banyak. Bukannya tidak boleh memiliki kendaraan yang banyak, namun juga harus bijaksana hidup dalam menghadapi lingkungan yang sudah mengalami degradasi. Sejarawan dan pendahulu kita mengatakan, tanah air adalah titipan anak cucu kita. Bagaimana jadinya kalau kita meninggalkan anak cucu kita dimana tanah dan air kita sudah rusak ?

 

 

Kebutuhan Manusia dan Eskploitasi Sumber Daya Alam

Mungkin belum ada penelitian seberapa besar kebutuhan tiap manusia yang diambil dari alam agar dapat memenuhi kebutuhannya. Toh, kembali lagi pada perbedaan kuantitas maupun kualitas kebutuhan manusia. Seandainya diketahui berapa besar kebutuhan manusia dan seberapa kekuatan alam dapat dimanfaatkan, manusia akan bijak dalam memanfaatkan alamnya. Itu pun bagi yang bijak dan sadar diri. Kemampuan alam untuk dimanfaatkan pun terbatas. Memanfaatkan alam melampaui kemampuan alam sendiri itu biasa disebut eksploitasi alam.

Tidak dipungkiri alam memiliki sumber daya yang luar biasa. Dari yang di daratan, lautan maupun udara. Pada umumya sumber daya alam ada yang dapat diperbaharui dan tidak dapat diperbaharui. Pembaharuan sumber daya alam pun membutuhkan proses. Misalnya sumber daya ikan di lautan dan sungai. Ia tidak serta merta tumbuh besar dalam hitungan detik. Ikan akan tumbuh besar dan layak untuk dimanfaatkan manusia sesuai hitungan waktu menurut perekembangannya. Seandainya jenis spesies ikan tanpa pandang usia/umurnya langsung diambil manusia atau masih dalam perkembangbiakan, tentu kelangsungan spesies ikan tersebut akan mudah punah. Bahkan dalam rangka pengambilan ikan di laut pun beberapa nelayan disertai keberanian mengambil ikan didaerah penangkapan negara tetangganya. Ujungnya kapal mereka yang ditangkap, histerisnya kapal pun ikut dibakar. Mungkin itu gambaran buruknya “illegal fishing”.

Bagi negara yang sudah memiliki teknologi perkapalan dan penangkapan ikan yang maju, ketika kapal mereka menangkap ikan di laut, ikan langsung diproses dan diolah di dalam kapal menjadi bahan makanan yang siap jual/saji. Olahan ikan tersebut tidak hanya siap jual di negaranya, namun siap diekspor ke negara tetangga, karena dukungan pemerintah. Tidak hanya dukungan dari pendanaan yang kuat namun juga dukungan teknologi. Tentunya teknologi penangkapan ikan pun mengikuti kecanggihan jaman. Di mana ada ikan, akan mudah dideteksi oleh alat pendeteksi ikan. Untuk memenuhi kuota penjualan atau target penjualan asal tangkap ikan pun dilakukan. Dukungan dana yang kuat dan teknologi akan mempermudah proses ekspliotasi penangkapan ikan. Jadi, semakin tingginya permintaan kebutuhan, akan semakin tinggi pula usaha eksploitasi sumber daya alam.

Bagi negara yang berkembang lain lagi ceritanya. Untuk membuat bahan makanan dari tangkapan ikan di laut siap saji/siap jual membutuhkan perjalanan yang panjang. Bagi nelayan harus disibukkan dengan kesabaran membeli BBM untuk kebutuhan kapalnya. Itu pun berlaku bagi nelayan yang sudah memakai kapal ber BBM. Untuk kapal yang tidak ber BBM antre membeli BBM tidak berlaku. Jangkaun perjalanan di laut untuk menangkap ikan pun terbatas, karena teknologi kapal pun terbatas. Area pesisir yang dahulu banyak didatangi ikan, sudah berubah didatangi bangunan-bangunan baru. Dimungkinkan juga ikan yang ditangkap belum layak.  Ketika sudah “melaut” sudah mendapatkan tangkapan ikan harus disibukkan menghadapi tengkulak ikan. Itu pun kalau hasil tangkapannya memenuhi kriteria. Kriteria ikan yang dimaksud mungkin ukuran kurang besar, jenis ikan menarik di pasaran. Bagi yang ikan memenuhi kriteria akan bernasib baik. Ia akan masuk dalam pabrik pengolahan ikan setelah melalui proses jual beli di pasar ikan. Kalau menjanjikan ia akan diekspor ke negara tetangga. Trus, nasib ikan yang tidak memenuhi kriteria larinya ke mana ? Mungkin akan lari ke “warung mangut” yang menjadi langganan pemilik cita rasa pedas.

Namun jangan berkecil hati, bagi penggemar makanan olahan ikan tidak memiliki kriteria. Ia akan diproses secara alami bagi penjual yang baik hati, tanpa campuran bahan pengawet. Lain lagi dengan bahan makanan ikan siap saji, yang sudah biasa dicampuri bahan campuran bahan pengawet. Belum tentu yang ikan yang diproduk berlabel ekspor itu sehat, malahan kebanyakan ikan untuk konsumsi dalam negeri itu yang sehat.

Gambaran kebutuhan energi yang berasal dari sumber daya alam seperti kebutuhan makan ikan di atas menggambarkan hal sebagai berikut: pertama, konsumen dari makanan ikan siap saji maupun produk ekspor tentu bagi yang memiliki uang. Bisa dikata orang yang memiliki ekonomi kelas sedang ke atas. Mengapa demikian? Tentu produk ekspor tidak leluasa dijual bebas seperti di warung mangut. Kemungkinan akan menurunkan “derajat” kualitas ekspor. Kedua, konsumen dari produk dari ikan yang tidak laku ekspor tentu akan ke pasar domestik sendiri, di mana notabennya konsumer dari kelas bawah. Ketiga, semakin tinggi tuntutan ekspor ikan karena kebutuhan/permintaan, maka akan semakin tinggi pula usaha penangkapan ikan. Bisa jadi tuntutan pasar domestik pun akan menuntut tinggianya usaha penangkapan ikan. Keempat, dukungan pendanaan yang kuat dan teknologi akan mempermudah penangkapan ikan, dimana ia memiliki kontribusi yang besar dalam melakukan eksploitasi.

Bagi sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui bagaiamana parahnya rusaknya jika mengalami eksploitasi ? Rusaknya alam tentu karena terjadinya eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan. Tentu  pernah mendengar berita, dimana ada kota lama suatu negara yang sudah ditinggal oleh penghuninya. Awalnya kota tersebut merupakan pusat kegiatan di negara yang dekat dengan pesisir. Pemenuhan akan air bersih masyarakat di kota tersebut telah menenggalamkan kota. Hal ini disebabkan begitu banyak pengambilan air bawah tanah di wilayah kota secara berlebihan, selain kiriman banjir dari daerah atasnya. Kemampuan air bawah tanah untuk menopang lahan diatasnya dieksploitasi, sehingga kota tersebut mengalami penurunan tanah dan tenggelam. Tentu hal yang bernasib tragis seperti  kota yang tenggelam tidak diinginkan terjadi di wilayah kita.

Share on Facebook

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. | TrackBack URI

Leave a comment

XHTML ( You can use these tags): <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> .

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.

*


Sunflowers Theme by Pello Xabier Altadill Izura