Ajik Ajik
Web Blog Undip Web Blog Undip

Calendar

October 2019
M T W T F S S
« Jul    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Main

Categories:

Archives:


Links

Meta:


GOODS FOR PEOPLE (PENGANTAR III)

October 15, 2019
Filed under: Cerita Bebas — ajiksujoko @ 2:07 pm

PENGANTAR III

Ada seorang teman yang habis berpergian ke luar negeri. Di sana ia beli sebuah produk barang elektronik. Melalui kurir/jasa pengiriman, maka dikirimkanlah barang elektronik tersebut. Sesampai di rumah, ternyata barang yang ia kirim belum sampai di rumahnya. Lantas selang 2 minggu kemudian, barulah barang elektronik tersebut sampai dirumahnya. Ya, maklum, pengiriman barang antar negara tentunya harus melewati pengawasan yang ketat.

Selang 6 bulan kemudian barang elektroniknya baru muncul di Kota tempat ia bekerja. Gumannya dalam hati,….. “kalau begitu teknologi kita terlambat 6 bulan dengan negara lain. Nyatanya barang elekronik saya sudah saya beli 6 bulan yang lalu, disini baru ada barangnya. Padahal saya beli di negara bukan tempat produksinya. Tentunya negara tempat produksi barang elektronik saya lebih maju lagi dong….”

Pernah melihat mobil mewah. Hanya melihat saja mobil tersebut melaju kencang di jalan tol di sudut Kota. Lihat nomor kendaraannya baru. Karena penasaran lantas iseng searching di internet. Hanya ingin lihat mobil dari negara itu. Ternyata produk dari luar negeri juga. Beberapa hari selang browsing di internet, tak sengaja membaca sebuah tulisan di suatu Koran harian. Ternyata mobil tersebut baru diijinkan masuk ke dalam negeri.

Ah, itu kalau barang elektronik atau mobil impor. Tapi ya jangan berkecil hati dulu. Barangkali di luar negeri, katakanlah di Paman Syam tidak ada kereta dokar seperti di pelosok daerah sebagai alat angkut. Becak mungkin tidak ditemukan di kota-kota besar di luar negeri. Kendaraan yang sangat ramah lingkungan ketimbang mobil mewah yang menghabiskan banyak bahan bakar ternyata banyak dipakai di daerah Indonesia.

Tentunya bisa membeli barang elektronik atau pun mobil impor bagi yang memiliki uang lebih. Hanya contoh barang impor. Mengapa demikian ? karena barang impor  identik dengan kualitas, bagus, teknologi maju dan mahal. Tentunya barang-barang seperti elektronik dan mobil yang ada di suatu negara, katankalah di Indonesia tidak sepenuhnya impor. Beras saja juga impor, apalagi gandum. Parahnya garam juga mengimpor. Bagaimana tidak ? Negara agraris sekaligus negara maritim mengimpor barang kebutuhan pokok yang bisa diproduk di negeri sendiri. Tidak rasional tindakan tersebut. Kalau menjual produk untuk membeli bahan pokok itu masih rasional. Misalnya menjual pesawat dan keilmuannya di luar negeri demi mendapatkan beberapa ton karung beras. Setidaknya ada barang yang bisa dijual untuk membeli barang yang dibutuhkan.

Terlepas dari kasanah masalah impor mengimpor di atas, betapa usaha pemenuhan kebutuhan akan goods bagi manusia sering kali berpikir dan bertindak tidak rasional. Tidak hanya tingkat negara, bahkan tingkut per individu pun sering tidak rasional.

 

Goods dan Hutang

Entah siapa yang mengajari manusia untuk berhutang, “tak taulah”. Tapi praktek hutang ini menjalar hampir di setiap manusia. Sepertinya ilmu alami manusia, tidak ada yang mengajari namun bisa mempraktikkannya. Kalau ada hutang tentunya ada piutang. Ada yang berhutang tentunya ada yang memiliki piutang. Praktek hutang piutang ini tidak hanya terjadi pada individu, tetapi terjadi juga pada perusahaan, suatu kelompok, lembaga keuangan bahkan negara. Bahkan di negara adikuasa pun memiliki hutang yang sangat melimpah, tak terkecuali seperti di Indonesia.

Hutang adalah salah satu cara untuk memperoleh goods, selain membuat sendiri goods, pinjam, hibah, sewa, membeli, menjual dan berinvestasi atau cara lainnya. Seringkali hutang bukannya menjadi alternatif cara memperoleh goods, namun menjadikannya suatu kebutuhan. Tidak hutang, tidak jalan. Tidak hutang, tidak dapat membeli. Tidak hutang, tidak memiliki. Kalau hutang adalah sebagai kebutuhan maka cara memperoleh goods lainnya lebih banyak ditinggalkan.

Di daerah pedesaan mereka membuat tempat nasi dari bahan bambu. Selain mudah didapat dan membuatnya, tidak perlu membelanjakan uang untuk membeli tempat nasi dari plastik. Bahkan sebagian dijual di pasar. Artinya orang pedesaan membuat goods untuk kebutuhannya.

Dengan berhutang dapat digunakan untuk memperoleh goods yang menjadi kebutuhannya. Hutang ini dapat dialokasikan tidak hanya untuk memperoleh goods tertentu, namun ia juga dapat dipakai untuk cara memperoleh goods lainnya. Artinya dengan berhutang dapat digunakan untuk  membuat sendiri goods, pinjam, hibah, sewa, membeli, menjual dan berinvestasi. Misal dalam berhutang dalam bentuk uang. Seorang pegawai negeri mengorbankan gajinya untuk dipotong oleh bank. Karena ia hutang uang di bank yang ia pakai untuk membeli tanah dan bangunan. Beberapa tahun kemudian harga tanah dan bangunan yang ia beli sudah melonjak  500 %. Apabila dijual nilainya sudah bisa menutup angsuran di bank dan meraup keuntungan lebih. Artinya hutang ia pakai untuk berinvestasi.

Hutang tidak hanya identik dengan hutang uang. Hutang dapat juga berupa hutang barang/jasa. Yang jelas hutang budi di bawa mati, karena tidak dapat membalas hutang budi yang setimpal dari orang tua.  Prinsipnya objek hutang adalah goods yaitu barang dan jasa, termasuk harta benda atau pun uang dan hal yang memiliki nilai. Nilai tidak hanya berarti bisa diuangkan, namun juga nilai yang memberikan kesenangan.

Hutang memiliki resiko terhadap goods. Memiliki hutang sedikit tentunya dapat memperoleh goods yang senilai hutang tersebut. Semakin besar hutang yang dimiliki tentunya dapat memperoleh goods yang senilai dengan hutang yang besar pula. Semakin sedikit hutang yang dimiliki, maka resiko akan goods yang akan dimiliki dari hutang tersebut sedikit pula. Demikian pula dengan goods dari hutang yang besar memiliki resiko yang besar pula. Oleh karena itu diperlukan kemampuan mengelola hutang.

 

Goods dan Ideologi

Goods dan ideologi adalah dua hal yang berbeda. Keduanya tidak memiliki singgungan dalam definisi. Namun keduanya banyak bersinggungan dalam kehidupan real sehari-hari. Di dalam Wikipedia, ideologi adalah kumpulan ide atau gagasan.[1] Apabila kita telusuri seluruh dunia ini, maka yang kita dapati hanya ada tiga ideologi (mabda’). Yaitu Kapitalisme, Sosialisme termasuk Komunisme, dan Islam. Untuk saat ini dua mabda pertama, masing-masing diemban oleh satu atau beberapa negara. Sedangkan mabda yang ketiga yaitu Islam, saat ini tidak diemban oleh satu negarapun, melainkan diemban oleh individu-individu dalam masyarakat. Sekalipun demikian, mabda ini tetap ada di seluruh penjuru dunia. Sumber konsepsi ideologi kapitalisme dan Sosialisme berasal dari buatan akal manusia, sedangkan Islam berasal dari wahyu Allah SWT (hukum syara’).[2] Ideologi juga berkembang. Muncul yang anti dari ideologi di atas. Misalnya anti kapitalisme dan seterusnya. Kemudian muncul lagi banyak ideologi yang muncul dari pemikiran manusia sesuai dengan abad ia hidup.

Dengan ideologi masing-masing individu bahkan negara memandang/melihat goods dengan berbagai sudut pandangnya. Bagi kaum kapitalis, yang sangat arogan melihat goods. Sebisa mungkin goods ini bisa dimiliki sebanyak mungkin secara individu ataupun kolektif. Apabila individu/kolektif memiliki banyak goods maka mereka akan dikatakan sejahtera. Dengan dibuatkan aturan main yang mendukung pemilikian goods maka faham atau ideologi ini pun akan terus bertahan. Misalnya bagaimana goods ini bisa lepas dan bebas di dapat. Tidak hanya di satu negara, namun juga bahkan lintas negara. Kalaupun ada yang akan menggunakan produk yang mereka buat, tentunya orang lain harus membayar royalty/fee dahulu. Terciptanya pasar yang bebas adalah hal yang ideal untuk mendapatkan goods.

Lain lagi dengan kaum sosialis. Mendapatkan goods, maka tidak serta merta mereka bebas menggunakan atau menikmati goods tersebut. Ketidakbebasan ini karena goods yang ada dalam pribadi sebenarnya juga milik bersama. Goods dianggap milik bersama. Maka peran negara lah yang sangat dominan mengatur kepemilikan mengenai goods. Apabila kepemilikian mengenai goods diatur oleh negara, diharapkan seluruh individu dapat merasakan kesejahteraan bersama.

Lain pula dengan ideologi Islam. Ia muncul karena adanya agama Islam yang dibawa oleh Nabi. Dasar Nabi menyampaikan agama adalah wahyu Allah SWT. Maka secara logika ideologi pertama yang dipakai umat manusia adalah ideologi islam. Mengapa ? Karena jelas Nabi Adam sampai Nabi Muhammad adalah seorang muslim. Semua Nabi agamanya Islam. Sudut pandang mengenai goods menurut ideologi islam tentunya sesuai tuntunan nabi. Pencarian goods tidak semata-mata untuk kepentingan manusia hidup di dunia, namun sebagai sarana atau bekal (amaliah) menuju Allah SWT.

Beda dengan ketiga ideologi besar di atas. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang luar biasa. Mengapa demikian ? Berbagai kemajemukan dan keanekaragaman dari beberapa pola dan adat bahkan agama bisa membaur dan hidup dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dan NKRI ini adalah harga mati. Sungguh luar biasa para founding father dan pahlawan bangsa Indonesia. Dengan Pancasila, sampai saat ini bangsa Indonesia tetap bertahan dengan ideologinya. Memang ideologi Pancasila tidak condong ketiga ideologi besar di atas. Namun dengan Pancasila berusaha untuk menyeimbangkan antara kebutuhan individu dengan kebutuhan sosial dan kebutuhan beragama. Idealnya dengan pengamalan Pancasila, maka melihat goods adalah dengan menyeimbangkan antara kebutuhan individu, sosial dan beragama. Namun demikian, fakta lebih sulit dan jauh dari ideal. Secara geopolitik, bangsa Indonesia dihimpit ideologi besar negara-negara besar. Apalagi ditunjang akses hubungan internasional dan kebutuhan untuk menjadi bangsa yang dapat berbaur dengan bangsa-bangsa lain. Akses ini yang menyebabkan negara lain untuk menebarkan ideologinya. Berbagai macam cara ideologi negara lain disebarkan dan di tanam di negara ini baik melalui sistem pemerintahan, peraturan, ekonomi, budaya dan lain sebagainya. Maka tidak mustahil cara pandang individu memandang dan mendapatkan goods akan dipengaruhi oleh ideologi.

[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Ideologi

[2] Ibid.

Share on Facebook

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. | TrackBack URI

Leave a comment

XHTML ( You can use these tags): <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> .

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.

*


Sunflowers Theme by Pello Xabier Altadill Izura