Ajik Ajik
Web Blog Undip Web Blog Undip

Calendar

October 2019
M T W T F S S
« Jul    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Main

Categories:

Archives:


Links

Meta:


GOODS FOR PEOPLE

October 15, 2019
Filed under: Cerita Bebas — ajiksujoko @ 1:50 pm

PENGANTAR I

Melihat judulnya mungkin bisa ditebak isi atau contennya dalam Bahasa Inggris. Namun, isi tulisan  menggunakan bahasa Indonesia, meskipun teksnya tidak menggunakan Bahasa Indonesia baku sesuai EYD. “Goods for people” (=barang untuk orang, arti dalam Bahasa Indonesianya kurang lebih demikian judulnya, menurut google translate). Maksudnya tidak sekedar barang, namun juga jasa untuk manusia. Judul yang saya pahami dan harapkan.

Goods yang akan saya utarakan adalah barang dan jasa. Termasuk harta benda atau pun uang dan hal yang memiliki nilai. Nilai tidak hanya berarti bisa diuangkan, namun juga nilai yang memberikan kesenangan. Mengacu pada Wikipedia “Barang atau komoditas dalam pengertian ekonomi adalah suatu objek atau jasa yang memiliki nilai. Nilai suatu barang akan ditentukan karena barang itu mempunyai kemampuan untuk dapat memenuhi kebutuhan.” Dalam makroekonomi dan akuntansi, suatu barang sering dilawankan dengan suatu jasa. Barang didefinisikan sebagai suatu produk fisik (berwujud, tangible) yang dapat diberikan pada seorang pembeli dan melibatkan perpindahan kepemilikan dari penjual ke pelanggan, kebalikan dengan suatu jasa (tak berwujud, intangible). Istilah “komoditas” sering digunakan dalam mikroekonomi untuk membedakan barang dan jasa.[1]

Dengan tidak mengurangi rasa patriot kepada bangsa karena memilih judul dengan Bahasa Inggris, namun isi atau contennya menggunakan Bahasa Indonesia. Karena menurut saya, lebih memudahkan pengertian secara umum. Namun demikian, harapannya memberikan kasanah terhadap diri saya sendiri, syukur memberikan kontribusi kepada orang lain. Harapan lain adalah keinginan menjadikan Bahasa Indonesia menjadi Bahasa Internasional.

Saya menyadari, penulisan artikel bebas ini jauh dari format dan formalitas pembuatan artikel yang ilmiah. Pernah mendengar kuliah yang dibawakan Prof. Satjipto Rahardjo (Prof. Tjip) yang kurang lebih menegaskan dan mendorong agar berpikir “out of the box” tidak sekedar itu, juga berpikir “out of the text”. Dari dasar itu penulisan artikel bebas yang berjudul goods for people ini saya buat dengan cara berpikir bebas dari kontek peraturan yang berlaku. Mungkin artikel bebas yang saya buat ini telah tertulis oleh orang lain atau mungkin masih sebatas dalam pikiran orang lain. Motivasi lainnya adalah cerita teman yang pernah ikut seminar mengenai investasi dan keuangan. Pada intinya dia menceritakan konsep mindset / cara berpikir yang menjadikan uang sebagai pemenuhan kebutuhan manusia. Bukannya manusia yang mengejar untuk mencari uang. Menjadikan uang yang membutuhkan dan mengikuti manusia, bukannya manusia yang membutuhkan dan mengikuti uang.

Dari cara konsep cara berpikir tesebut, mungkin pada alurnya sama, bahwa dengan judul artikel bebas ini, menjadikan goods (=barang/jasa) sebagai pemenuhan kebutuhan manusia. Bukannya manusia mengejar-ngejar dan mencari barang yang nantinya menjadikan “people for goods”. Dilihat dari situasi dan kondisi nyata sekarang ini, bukannya tidak mungkin sekarang manusia terlalu disibukkan dengan berbagai usaha yang mencari dan mengejar barang yang semula untuk pemenuhan kebutuhan menjadi keinginan memiliki barang. Betapa pemenuhan kebutuhan manusia telah merusak lingkungan. Terjadinya eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan. Eksploitasi sumber daya manusia untuk membuat barang dan jasa. Negara dalam kontek berkeluarga menghabiskan beberapa uangnya untuk memenuhi kebutuhannya. Situasi manusia yang saling berebut dan memperebutkan barang dan jasa.  Aturan yang mendukung terjadinya alur “people for goods”.

 

“People for goods” dan Sejarah yang Nyata

Bagi umat Islam tentu mempercayai adanya keberadaan Nabi dan Rosul Allah SWT. Kisah para Nabi dan Rosul yang terdapat dalam kitab-kitab suci dan sabda-sabda para Nabi dan Rosul. Harapannya dengan kisah adanya Nabi dan Rosul tersebut menjadi pelajaran bagi umat sekarang ini. Sekilas mengenai manusia pertama yang diciptakan oleh Allah SWT. Ia adalah Nabi Adam AS (‘Alaihi Salam). Kemudian diciptakan Hawa sebagai istri Nabi Adam AS. Umat Islam mengimani bahwa Nabi Adam AS dan isterinya diciptakan dan tinggal di surga Allah SWT.

Segala kebutuhan mereka sudah tersedia di dalam surga. Mereka tidak perlu repot-repot bekerja untuk mencari makan, minun, pakaian dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Semua kebutuhan terpenuhi. Allah berpesan kepada Adam:”Tinggallah engkau bersama isterimu di syurga, rasakanlah kenikmatan yang berlimpah-limpah di dalamnya, rasailah dan makanlah buah-buahan yang lezat yang terdapat di dalamnya sepuas hatimu dan sekehendak nasfumu.Kamu tidak akan mengalami atau merasa lapar,dahaga ataupun letih selama kamu berada di dalamnya.Akan tetapi Aku ingatkan janganlah makan buah dari pohon ini yang akan menyebabkan kamu celaka dan termasuk orang-orang yang zalim.Ketahuilah bahawa Iblis itu adalah musuhmu dan musuh isterimu,ia akan berusaha membujuk kamu dan menyeret kamu keluar dari syurga sehingga hilanglah kebahagiaan yang kamu sedang nikmat ini.”[2]

Riwayat selanjutnya bahwa Nabi Adam AS dan Hawa dikeluarkan dari Surga karena bujukan Iblis. Setelah turun Nabi Adam AS dan Hawa ke bumi barulah sejarah manusia pertama berusaha keras dengan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebutuhan untuk memenuhi dirinya sendiri, keluarga dan anak-anaknya. Lama kelamaan berkembanglah manusia menjadi banyak. Umat Islam mengimani bahwa manusia yang ada sekarang ini adalah keturunan Nabi Adam AS.

Karena berkembangnya manusia, maka pola hidup yang semula dalam lingkungan tempat tinggal yang sama berubah mencari tempat tinggal yang saling berpencar. Kehidupan anak turun Nabi Adam AS ada yang mendapatkan kesenangan dan kemewahan dunia, dengan dicukupinya segala kebutuhan hidupnya. Namun ada juga yang hanya pas-pasan karena pas-pas juga kebutuhan hidupnya terpenuhi. Kemudian muncullah kelompok atau suku-suku. Lambat laun kelompok-kelompok keturunan Nabi Adam AS mendirikan kerajaan yang tentunya dipimpin oleh Raja. Mungkin sudah kodratnya, bahwa yang kuat akan menguasai yang lemah. Dari kemungkinan tersebut muncullah raja-raja yang kuat dari golongan atau kelompok-kelompok keturunan Nabi Adam AS.

Suku-suku anak keturunan Nabi Adam AS yang semula mengikuti ajaran leluhurnya (Nabi Adam AS), banyak yang melenceng dari ajaran yang benar yaitu percaya kepada Allah SWT sebagai Tuhannya. Kesejahteraan hidup dan kenikmatan duniawi sehingga tidak mengenalkan Tuhannya yang mengaruniakan itu semua.[3] Hal ini seperti pada jamannya Nabi Hud AS. Kaum Nabi Hud AS yaitu suku Aad menyembah patung yang mereka buat sendiri. Mereka sibuk dengan kenikmatan atas kesejahteraan hidup yang mereka cari dan capai. Mereka melupakan tuhan yang memberi karunia kenikamatan tersebut. Betapa mereka disibukkan bekerja untuk membuat rumah, menumpuk harta benda, hasil tanaman, hewan peliharaan dan lainnya. Mindset mereka hanya untuk menumpuk harta, hasil tanaman hewan-hewan peliharaan. Namun, barang dan harta yang mereka miliki tidak sebagai sarana untuk mensyukuri sang pemberi yaitu Allah SWT. Mereka diperbudak sendiri dengan kesibukan hal-hal yang bersifat duniawai dengan memperbanyak barang-barang yang mereka inginkan.

Dari situlah awal konsep sejarah peradaban manusia yang saya pahami dimana contoh adanya suatu kaum yang mencerminkan manusia yang disibukkan mencari barang-barang. Bahkan dengan barang yang diciptakannya menjadi sesembahan mereka. Manusia hanya diperalat untuk menciptakan barang-barang duniawai.  “People for goods”. Alhasil kisah kaum Aad pada jaman Nabi Hud AS, adalah mereka diterka bancana berupa kekeringan ladang-ladang mereka dan menimbulkan kelaparan. Pada akhirnya mereka disapu bersih dengan angin taufan yang dahsyat. Sekiranya pelajaran yang bisa dipetik adalah betapa manusia dengan segala kemampuannya dan mati-matian mencari dan menumpuk barang-barang (harta benda) tanpa mensyukuri pemberi harta benda tersebut akan menemuai kehancuran.

Kisah dan sejarah Jaman Nabi di atas adalah nyata. Dari sini konsep yang saya ungkapkan adalah bahwa cara berpikir manusia “people for goods” hasilnya akan menghancurkan manusia sendiri. Tidak adanya keseimbangan antara pencapaian hasil manusia mendapatkan barang-barang namun tidak mensyukuri hasilnya dengan berbagai hal. Allah SWT memberikan bencana kekeringan kepada Kaum Aad tentunya tidak serta merta sekali jadi. Tentunya ada proses yang menjadikan bencana tersebut. Kurangnya penghargaan terhadap lingkungan karena dikeruk menerus hasil-hasilnya tanpa mempertimbangkan kemampuan lingkungan tersebut, pada akhirnya tidak akan memberikan hasil. Malah ketidakhasilan yang didapat. Pada akhirnya menemui bencana.

“Goods por people”, mungkin mindset yang sama pada pikiran orang lain yang akan saya setujui dan akan saya jelaskan berikutnya.

 

Mengejar yang tak abadi

Mungkin ada kalanya berkata agar tidak terlalu serius. Orang kaya mati, orang suskses mati, orang baik mati, apalagi yang bukan ?….Kaya, sukses itu baik. Dalam segala hal. Namun tidak semua orang mendapatkan porsi yang seperti itu. Mungkin hanya berbanding  satu per seribu. Konsep kaya, sukses, dan baik pun relatif. Antar individu/orang menafsirkan sendiri-sendiri. Apalagi ukuran kaya, sukses dan baik tidaklah selalu seragam.

Hanya sekedar kisah-kisah yang harus berujung pada tidak abadi di dunia. Di dunia memang tidak ada yang abadi. Harta benda yang dicari adalah hal yang mudah rusak. Uang contohnya, tiap beberapa tahun sekali sudah diganti dengan lembaran atau koin yang baru. Lembaran kertas uang sekarang mungkin 20 tahun kemudian sudah menjadi incaran kolektor barang antik. Rumah, hanya beberapa tahun kemudian akan luntur catnya, rapuh temboknya, dan pada akhirnya ambruk. Kendaraan, seperti mobil , sepeda motor yang tiap tahun berkurang nilainya karena kondisi tidak sebaik waktu pembelian baru “alias” rusak. Tanah, sudah beralih fungsi dalam beberapa tahun kemudian, tidak subur, hancur bila terkena bencana, tidak melambung harganya karena kondisi yang mensyaratkan demikian. Emas, perak, berlian, pun tidak luput dari kehancuran. Pernah mendengar sejarah seorang yang kaya raya yang tenggelam bersama hartanya. Karun namanya. Hal yang dimiliki manusia yang bersifat duniawai akan mudah hancur, hilang atau pun binasa. Apa kalau begitu, manusia tetap ingin berambisi mencari dan mengejar yang tak abadi di dunia ini ?

Menurut saya konsep mengejar barang yang tak abadi adalah salah satu bentuk konsep “people for goods”, dimana “the goods will be destroyed”. Mungkin lain halnya dengan para pecinta dan pengiman dunia yang abadi. Mereka merasa hidup hanya sekali, maka segala sesuatu harus didapatkan dan dinikmati di dunia karena tidak akan mendapatkan untuk kedua kalinya bila mati kemudian. Para pengiman dunia yang abadi jaman sekarang ini tidak ubahnya para manusia yang hidup ribuan tahun lalu yang tidak percaya adanya sang Pencipta, Allah SWT. Hikayat dari negeri Shin yang mencertikan adanya raja yang mencari kehidupan abadi dengan mencari orang yang memiliki ramuan dapat hidup abadi. Namun apa yang ia dapat, bahwa orang yang dicarinya itu telah mati. Akhirnya raja itu menyadari bahwa dirinya akan mati pula, setelah mendengar pesan para pembesarnya.

 

Goods Sebagai Alat Pemuas Kebutuhan Manusia

Sudah menjadi tugas manusia untuk menjalankan apa yang harus dijalankan selayaknya manusia. Tugas pokok manusia hanya beribadah. Itu konsep yang jelas dalam Al Qur’an, kitab suci agama Islam. Namun demikian, berjuta manusia yang hidup di dunia ini yang memiliki banyak konsep untuk hidup, cara hidup dan bertahan hidup. Banyaknya konsep tersebut yang menjadikan manusia seakan bingung harus apa dan mau apa, sehingga melakukan hal-hal yang tak memiliki nilai ibadah. Ibadah pun memili banyak penafsiran dan banyak cara yang dapat dilakukan.

Demikian halnya manusia mencari “goods” untuk memenuhi kebutuhannya. Bagaimana proses mencari dan pemenuhan kebutuhan dari “goods” ini memiliki nilai ibadah pula ? Ada hal yang sering didengar bahwa yang terbaik adalah yang tengah-tengah. Artinya tidak pasrah dalam memenuhi kebutuhan dan tidak terlalu berambisi dalam memenuhi kebutuhannya. Memang kebutuhan manusia tidak hanya yang bersifat jasmaniah saja, namun ada hal yang bersifat rohaniyah. Kedua kebutuhan manusia tersebut harus terpenuhi, agar jasmani dan rohaninya sehat dan waras.

Sekali lagi “goods” adalah hanya salah satu untuk memenuhi kebutuhan manusia yang sifatnya jasmaniah. Namun demikian bila pemenuhan tersebut sudah terpenuhi, akan mendorong berbuat berbagai hal sesuai kemampuannya. Bisa jadi kebutuhan rohaniyahnya akan terpenuhi karena kebutuhan jasmaniahnya sudah terpenuhi. Bisa saja dengan dorongan nafsu yang dimiliki manusia, pencarian “goods” selalu dicari agar terpuaskan kebutuhannya. Lain halnya dengan manusia yang belum atau tidak bisa memenuhi kebutuhannya dari “goods” ? Bisa jadi akan sama selalu mencari “goods” untuk memuaskan kebutuhannya. Pencarian “goods” ini bisa disimpulkan karena manusia belum memilikinya atau karena merasa kurang untuk memiliki yang lebih.

Oleh karena itu, goods sebagai alat pemuas kebutuhan manusia tergantung dari pemahaman manusia mengenai konsep tugasnya sebagai manusia.

[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Barang

[2] http://kisah25nabi.blogspot.com/2007/12/nabi-adam-as.html

[3] http://www.islam2u.net/index.php?option=com_content&view=article&id=431:kisah-nabi-hud-as&catid=17:rasul-dan-nabi-allah&Itemid=73

Share on Facebook

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. | TrackBack URI

Leave a comment

XHTML ( You can use these tags): <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> .

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.

*


Sunflowers Theme by Pello Xabier Altadill Izura